Archives

Search

Konversi Agama

June 12th, 2010 by 06422012

Konversi Agama

Pendahuluan

Sejak manusia terlahir ke muka bumi telah memiliki potensi beragama yang menurut para ahli psikologi disebut dengan Religious instinct atau biasa pula disebut Fitrah Beragama. Adanya fitrah beragama dalam kehidupan manusia tidak dapat dipungkiri. Fitrah atau naluri beragama telah ditanamkan oleh Allah.<!–[if !supportFootnotes]–>[1]<!–[endif]–>

Selain itu banyak dari kalangan ilmuan yang meyakininya melalui penelitian yang mereka lakukan. Carl Gustav Jung seoarang ahli Psikologi, misalnya, mengatakan bahwa agama termasuk dalam hal-hal yang sudah ada di alam bawah sadar secara fitri dan alami. Ia merupakan perasaan yang lahir secara internal dan kemudian berkembang melalui faktor-faktor eksternal. William Jemes seorang filosof Amerika dan ahli psikologi, mengemukakan naluri material menghubungkan manusia dengan alam material, demikian juga dengan naluri spritual menghubungkan manusia dengan alam lainnya. Artinya, adanya keinginan untuk beragama merupakan dorongan dari alam spiritual.<!–[if !supportFootnotes]–>[2]<!–[endif]–> M. Quraish Shihab berkesimpulan bahwa manusia sejak asal kejadiannya, mambawa potensi agama yang lurus. Fitrah ini akan melekat pada diri manusia untuk selama-lamanya, walaupun tidak diakui atau diabaikannya.<!–[if !supportFootnotes]–>[3]<!–[endif]–>

Namun deimikian, naluri agama tersebut mengharuskan adanya pembinaan positif dari luar dirinya, karena pengaruh eksternal juga akan mepengaruhi bagi keberlangsungan jiwa keberagamaanya.<!–[if !supportFootnotes]–>[4]<!–[endif]–> Oleh sebab itu seringkali terjadi perubahan-perubahan kepercayaan atau keyakinan terjadi pada masyarakat yang disebabkan oleh kegoncangan jiwa mereka. Hal inilah sering disebut dengan konversi agama.

Konversi agama (religious conversion) secara umum dapat di artikan dengan berubah agama ataupun masuk agama. Menurut Thouless konversi agama adalah istilah yang pada umumnya diberikan untuk proses yang menjurus kepada penerimaan suatu sikap keagamaan, proses itu bisa terjadi secara berangsur-angsur atau secara tiba-tiba.<!–[if !supportFootnotes]–>[5]<!–[endif]–>

 

Pembahasan

B.1 Agama Bagi Manusia

Salah seorang tokoh psikologi barat , Sigmund Freud berpendaat bahwa kepercayaan kepada Tuhan adalah sebuah ilusi yang harus ditinggalkan manusia dewasa. Kebutuhan terhadap Tuhan, kata Freud, adalah kerinduan masa kanak-kanak akan ayah yang kuat dan melindungi; akan kejujuran dan keadilan, dan kehidupan yang akan berlangsung selamanya. Tuhan adalah proyeksi dari keinginan-keinginan seperti itu, ditakuti dan disembah oleh manusia akibat rasa tak berdaya di dalam diri. Agama, dalam pandangan Freud, hanya dibutuhkan manusia dalam transisi anak-anak menuju dewasa.<!–[if !supportFootnotes]–>[6]<!–[endif]–> Selanjutnya, ia juga berpendapat bahwa agama adalah penghiburan yang dibutuhkan manusia karena bengisnya hidup di dunia ini.<!–[if !supportFootnotes]–>[7]<!–[endif]–> Dan pendapat ini pula didukung oleh Marx yang mengemukakan bahwa agama adalah candu (ovium).

Menurut para “ahli” diatas, agama tak lain hanya sekedar pelarian manusia dari dunia yang tidak berpengharapan ini. Ketika manusia menghadapi konflik dalam hidupnya maka ia membutuhkan “obat” untuk meredakan “rasa sakit” itu.

Pandangan para tokoh tersebut, sebenarnya tidak terlepas dari latar belakang kehidupan mereka, misalanya saja freud yang lahir dari keluarga yahudi, dan rupanya mendapatkan akar kebenciannya terhadap agama karena situasi saat itu yang anti-semitik. Ia adalah seorang Yahudi yang tinggal di lingkungan Kristen dan hanya memiliki beberapa teman Yahudi yang tidak saling mencaci dan meghina.

Pengalaman-pengalamannya dengan ritual Katolik diperoleh dari perawatnya, seorang perempuan Ceko yang mengasuhnya dari kanak-kanak. Hans Kung mempertanyakan tentang kemuakan Freud terhdap doktrin Kristen. Apakah hal itu bermula dari pengajaran-pengajaran perempuan Ceko yang mengasuhnya itu? Perempuan itulah yang dianggap telah “membantu” Freud memahami jabaran-jabaran liturgis tentang “perilaku Tuhan”.Freud kemudian mulai menampakkan taringnya dengan menerbitkan artikel pertamanya pada tahun 1907, yang berjudul “Perilaku Obsesif dan Praktek Agama”. Dalam artikel ini Freud menyebut kegilaan obsesif sebagai ” bagian patologis bentuk agama” dan agama sendiri sebagai “kegilaan obsesi universal”.<!–[if !supportFootnotes]–>[8]<!–[endif]–>

Rupanya Freud berkesimpulan bahwa segala macam ritual dan upacara keagamaan adalah bentuk kegilaan obsesif manusia semata. Karena manusia tidak sadar ketika melakukan ritual-ritual tersebut.

Pendapat-pendapat para “ahli” diatas sebenarnya dengan mudah dapat terbantahkan, ketika kita mengaitkanya kepada ajaran Islam. Sebab pada dasarnya Islam adalah ajaran yang mengajarkan seluruh aspek kehidupan manusia, selain itu, iapun sebagai pedoman bagi kehidupan manusia. Seluruh tingkah laku manusia dalam Islam merupakan bentuk ibadah terhadap Tuhan, tentunya apabila itu semua didasari dengan ajaran islam itu sendiri. Adapun ibadah ritual keagamaan (ibadah mahdhoh), sebenarnya itu tidak hanya bersifat ritual belaka namun itu juga adalah bentuk komunikasi antara seorang hamba dan Kholiknya. Selain itu, ibadah tersebut juga merupakan wujud rasa syukur manusia terhadap Tuhan.

Dalam pandangan Islam, agama adalah kebutuhan pokok yang tidak dapat ditinggalkan maupun dilupakan, bahkan tidak sesaat-pun manusia mampu meninggalkan agamanya, yang mana agama adalah pandangan hidup dan praktik penuntun hidup dan kehidupan, sejak lahir sampai mati, bahkan sejak mulai tidur sampai kembali tidur agama selalu akan memberikan bimbingan, demi menuju hidup sejahtera dunia dan akhirat. Kebutuhan manusia terhadap agama disini tidak sekedar sebagaimana butuhnya materi, besar dari pada kebutuhan materil.

Pandangan para tokoh diatas pada dasarnya bertentangan dengan hati nurani mereka, sebab walau bagaimanapun manusia diberikan potensi beragama (instinct religious), dan kemampuanya yang terbatas mengharuskan dirinya untuk meminta pertolongan kepada yang ada diluar dirinya. Hal ini tentunya tidak hanya didasarkan pada asumsi semata, namun juga ini didasakan pada pemikiran dan penelitian, baik itu dari kalangan ilmuan muslim maupun barat.

 

B.2 Perkembangan Jiwa Beragama Bagi Manusia

Dalam rentang kehidupan terdapat beberapa tahap perkembangan. Menurut Kohnstamm, tahap perkembangan kehidupan manusia dibagi menjadi lima periode, yaitu:

<!–[if !supportLists]–>a) <!–[endif]–>Umur 0 – 3 tahun, periode vital atau menyusuli.

<!–[if !supportLists]–>b) <!–[endif]–>Umur 3 – 6 tahun, periode estetis atau masa mencoba dan masa bermain.

<!–[if !supportLists]–>c) <!–[endif]–>Umur 6 – 12 tahun, periode intelektual (masa sekolah)

<!–[if !supportLists]–>d) <!–[endif]–>Umur 12 – 21 tahun, periode social atau masa pemuda.

<!–[if !supportLists]–>e) <!–[endif]–>Umur 21 tahun keatas, periode dewasa atau masa kematangan fisik dan psikis seseorang.

Elizabeth B. Hurlock merumuskan tahap perkembangan manusia secara lebih lengkap sebagai berikut: 1). Masa Pranatal, saat terjadinya konsepsi sampai lahir; 2). Masa Neonatus, saat kelahiran sampai akhir minggu kedua; 3). Masa Bayi, akhir minggu kedua sampai akhir tahun kedua; 4). Masa Kanak- Kanak awal, umur 2 – 6 tahun; 5). Masa Kanak- Kanak akhir, umur 6 – 10 atau 11 tahun; 6). Masa Pubertas (pra adolesence), umur 11 – 13 tahun; 7). Masa Remaja Awal, umur 13 – 17 tahun. Masa remaja akhir 17 – 21 tahun; 8). Masa Dewasa Awal, umur 21 – 40 tahun; 9). Masa Setengah Baya, umur 40 – 60 tahun; 10). Masa Tua, umur 60 tahun keatas.

B.2.1 Perkembangan Agama Pada Anak

Sebagaimana dijelaskan diatas, yang dimaksud dengan masa anak- anak adalah sebelum berumur 12 tahun. Jika mengikuti periodesasi yang dirumuskan Elizabeth B. Hurlock, dalam masa ini terdiri dari tiga tahapan:

<!–[if !supportLists]–>a) <!–[endif]–>0 – 2 tahun (masa vital)

<!–[if !supportLists]–>b) <!–[endif]–>2 – 6 tahun (masa kanak- kanak)

<!–[if !supportLists]–>c) <!–[endif]–>6 – 12 tahun (masa sekolah)

Anak mengenal Tuhan pertama kali melalui bahasa dari kata- kata orang yang ada dalam lingkungannya, yang pada awalnya diterima secara acuh. Tuhan bagi anak pada permulaan merupakan nama sesuatu yang asing dan tidak dikenalnya serta diragukan kebaikan niatnya. Tidak adanya perhatian terhadap tuhan pada tahap pertama ini dikarenakan ia belum mempunyai pengalaman yang akan membawanya kesana, baik pengalaman yang menyenangkan maupun yang menyusahkan. Namun, setelah ia menyaksikan reaksi orang- orang disekelilingnya yang disertai oleh emosi atau perasaan tertentu yang makin lama makin meluas, maka mulailah perhatiannya terhadap kata tuhan itu tumbuh.

Perasaan si anak terhadap orang tuanya sebenarnya sangat kompleks. Ia merupakan campuran dari bermacam- macam emosi dan dorongan yang saling bertentangan. Menjelang usia 3 tahun yaitu umur dimana hubungan dengan ibunya tidak lagi terbatas pada kebutuhan akan bantuan fisik, akan tetapi meningkat lagi pada hubungan emosi dimana ibu menjadi objek yang dicintai dan butuh akan kasih sayangnya, bahkan mengandung rasa permusuhan bercampur bangga, butuh, takut dan cinta padanya sekaligus.

Menurut Zakiah Daradjat, sebelum usia 7 tahun perasaan anak terhadap tuhan pada dasarnya negative. Ia berusaha menerima pemikiran tentang kebesaran dan kemuliaan Tuhan. Sedang gambaran mereka tentang Tuhan sesuai dengan emosinya. Kepercayaan yang terus menerus tentang Tuhan, tempat dan bentuknya bukanlah karena rasa ingin tahunya, tapi didorong oleh perasaan takut dan ingin rasa aman, kecuali jika orang tua anak mendidik anak supaya mengenal sifat Tuhan yang menyenangkan. Namun pada pada masa kedua (27 tahun keatas) perasaan si anak terhadap Tuhan berganti positif (cinta dan hormat) dan hubungannya dipenuhi oleh rasa percaya dan merasa aman.

B.2.2 Tahap Perkembangan Beragama Pada Anak

Menurut penelitian Earnest Harms perkembangan agama anak-anak itu melalui beberapa fase (tingkatan). Dalam bukunya The Development of Relogeus On Children, ia mengatakan bahwa perkembangan agama itu mealui tiga tingkatan, tiga:

1. The Fairly Tale Stage (Tingkat Dongeng)

Pada tahap ini anak yang berumur 3 – 6 tahun, konsep mengeanai Tuhan banyak dipengaruhi oleh fantasi dan emosi, sehingga dalam menanggapi agama anak masih menggunakan konsep fantastis yang diliputi oelh dongeng- dongeng yang kurang ,masuk akal. Cerita akan Nabi akan dikhayalkan seperti yang ada dalam dongeng- dongeng.

Pada usia ini, perhatian anak lebih tertuju pada para pemuka agama daripada isi ajarannya dan cerita akan lebih menarik jika berhubungan dengan masa anak-anak karena sesuai dengan jiwa kekanak- kanakannya. Dengan caranya sendiri anak mengungkapkan pandangan teologisnya, pernyataan dan ungkapannya tentang Tuhan lebih bernada individual, emosional dan spontan tapi penuh arti teologis.

2. The Realistic Stage (Tingkat Kepercayaan)

Pada tingkat ini pemikiran anak tentang Tuhan sebagai bapak beralih pada Tuhan sebagai pencipta. Hubungan dengan Tuhan yang pada awalnya terbatas pada emosi berubah pada hubungan dengan menggunakan pikiran atau logika.

Pada tahap ini teradapat satu hal yang perlu digaris bawahi bahwa anak pada usia 7 tahun dipandang sebagai permulaan pertumbuhan logis, sehingga wajarlah bila anak harus diberi pelajaran dan dibiasakan melakukan shalat pada usia dini dan dipukul bila melanggarnya.

3. The Individual Stage (Tingkat Individu)

Pada tingkat ini anak telah memiliki kepekaan emosi yang tinggi, sejalan dengan perkembangan usia mereka. Konsep keagamaan yang diindividualistik ini terbagi menjadi tiga golongan:

a. Konsep ketuhanan yang konvensional dan konservatif dengan dipengaruhi sebagian kecil fantasi.

b. Konsep ketuhanan yang lebih murni, dinyatakan dengan pandangan yang bersifat personal (perorangan).

c. Konsep ketuhanan yang bersifat humanistik, yaitu agama telah menjadi etos humanis dalam diri mereka dalam menghayati ajaran agama.

Berkaitan dengan masalah ini, imam bawani membagi fase perkembangan agama pada masa anak menjadi empat bagian, yaitu:

a. Fase dalam kandungan

untuk memahami perkembangan agama pada masa ini sangatlah sulit, apalagi yang berhubungan dengan psikis ruhani. Meski demikian perlu dicatat bahwa perkembangan agama bermula sejak Allah meniupkan ruh pada bayi, tepatnya ketika terjadinya perjanjian manusia atas tuhannya.

b. Fase bayi

Pada fase kedua ini juga belum banyak diketahui perkembangan agama pada seorang anak. Namun isyarat pengenalan ajaran agama banyak ditemukan dalam hadis, seperti memperdengarkan adzan dan iqamah saat kelahiran anak.

c. Fase kanak- kanak

Masa ketiga tersebut merupakan saat yang tepat untuk menanamkan nilai keagamaan. Pada fase ini anak sudah mulai bergaul dengan dunia luar. Banyak hal yang ia saksikan ketika berhubungan dengan orang-orang orang disekelilingnya. Dalam pergaulan inilah ia mengenal Tuhan melalui ucapan- ucapan orang disekelilingnya. Ia melihat perilaku orang yang mengungkapkan rasa kagumnya pada Tuhan. Anak pada usia kanak- kanak belum mempunyai pemahaman dalam melaksanakan ajaran Islam, akan tetapi disinilah peran orang tua dalam memperkenalkan dan membiasakan anak dalam melakukan tindakan- tindakan agama sekalipun sifatnya hanya meniru.

d. Masa anak sekolah

Seiring dengan perkembangan aspek- aspek jiwa lainnya, perkembangan agama juga menunjukkan perkembangan yang semakin realistis. Hal ini berkaitan dengan perkembangan intelektualitasnya yang semakin berkembang.

Sedangkan sifat agama pada dapat dibagi menjadi enam bagian: Unreflective (kurang mendalam/ tanpa kritik), Egosentris, Anthromorphis Verbalis dan Ritualis, imitative.

B.2.2 Agama Pada masa Remaja

B.2.2.1 Perkembangan Jiwa Beragama Pada Remaja

Dalam peta psikologi remaja terdapat tiga bagian:

1. Fase Pueral

Pada masa ini remaja tidak mau dikatakan anak- anak, tetapi juga tidak bersedia dikatakan dewasa. Pada fase pertama ini merasa tidak tenang.

2. Fase Negative

Fase kedua ini hanya berlangsung beberapa bulan saja, yang ditandai oleh sikap ragu- ragu, murung, suka melamun dan sebagainya.

3. Fase Pubertas

Masa ini yang dinamakan dengan Masa Adolesen

Dalam pembahasan ini , Luella Cole sebagaimana disitir kembali oleh Hanna Jumhanna Bastaman, membagi peta remaja menjadi empat bagian:

1. Preadolescence : 11-13 tahun (perempuan) dan 13-15 tahun (laki- laki)

2. Early Adolescence : 13-15 tahun (perempuan) dan 15-17 tahun (laki- laki)

3. Middle Adolescence : 15-18 tahun (perempuan) dan 17-19 tahun (laki- laki)

4. Late Adolescence : 18-21 tahun (perempuan) dan 19-21 tahun (laki- laki)

 

B.2.2.3 Perasaan Beragama Pada Remaja

Gambaran remaja tentang Tuhan dengan sifat- sifatnya merupakan bagian dari gambarannya terhadap alam dan lingkungannya serta dipengaruhi oleh perasaan dan sifat dari remaja itu sendiri. Keyakinan agama pada remaja merupakan interaksi antara dia dengan lingkungannya. Misalnya, kepercayaan remaja akan kekuasaan tuhan menyebabkannya pelimpahan tanggung jawab atas segala persoalan kepada tuhan, termasuk persoalan masyarakat yang tidak menyenangkan, seperti kekacauan, ketidak adilan, penderitaan, kezaliman, persengkataan, penyelewengan dan sebagainya yang terdapat dalam masyarakat akan menyebabkan mereka kecewa pada Tuhan, bahkan kekecewaan tersebut dapat menyebabkan memungkiri kekuasaan tuhan sama sekali.

Perasaan remaja kepada Tuhan bukanlah tetap dan stabil, akan tetapi adalah perasaan yang yang tergantung pada perubahan- perubahan emosi yang sangat cepat, terutama pada masa remaja pertama. Kebutuhan akan Allah misalnya, kadang- kadang tidak terasa jika jiwa mereka dalam keadaan aman, tentram dan tenang. Sebaliknya, Allah sangat dibutuhkan apabila mereka dalam keadaan gelisah, karena menghadapi musibah atau bahaya yang mengancam ketika ia takut gagal atau merasa berdosa.

B.2.2.3. Motivasi Beragama Pada Remaja

Menurut Nico Syukur Dister Ofm, motifasi beragama dibagi menjadi empat motivasi, yaitu:

1. Motivasi yang didorong oleh rasa keinginan untuk mengatasi frustasi yang ada dalam kehidupan, baik frustasi karena kesukaran dalam menyesuaikan diri dengan alam, frustasi social, frustasi moral maupun frustasi karena kematian.

2. Motivasi beragama karena didorong oleh keinginan untuk menjaga kesusilaan dan tata tertib masyarakat.

3. Motivasi beragama karena didorong oleh keinginan untuk memuaskan rasa ingin tahu manusia atau intelek ingin tahu manusia.

4. Motivasi beragama karena ingin menjadikan agama sebagai sarana untuk mengatasi ketakutan.

 

B.2.2.4 Sikap Remaja Dalam Beragama

Terdapat empat sikap remaja dalam beragama, yaitu:

1. Percaya ikut- ikutan

Percaya ikut- ikutan ini biasanya dihasilkan oleh didikan agama secara sederhana yang didapat dari keluarga dan lingkungannya. Namun demikian ini biasanya hanya terjadi pada masa remaja awal (usia 13-16 tahun). Setelah itu biasanya berkembang kepada cara yang lebih kritis dan sadar sesuai dengan perkembangan psikisnya.

2. Percaya dengan kesadaran

Semangat keagamaan dimulai dengan melihat kembali tentang masalah- masalah keagamaan yang mereka miliki sejak kecil. Mereka ingin menjalankan agama sebagaio suatu lapangan yang baru untuk membuktikan pribadinya, karena ia tidak mau lagi beragama secara ikut- ikutan saja. Biasanya semangat agama tersebut terjadi pada usia 17 tahun atau 18 tahun. Semangat agama tersebut mempunyai dua bentuk:

a. Dalam bentuk positif: semangat agama yang positif, yaitu berusaha melihat agama dengan pandangan kritis, tidak mau lagi menerima hal- hal yang tidak masuk akal. Mereka ingin memurnikan dan membebaskan agama dari bid’ah dan khurafat, dari kekakuan dan kekolotan.

b. Dalam bentuk negatif: Semangat keagamaan dalam bentuk kedua ini akan menjadi bentuk kegiatan yang berbentuk khurafi, yaitu kecenderungan remaja untuk mengambil pengaruh dari luar kedalam masalah- masalah keagamaan, seperti bid’ah, khurafat dan kepercayaan- kepercayaan lainnya.

3. Percaya, tetapi agak ragu- ragu: Keraguan kepercayaan remaja terhadap agamanya dapat dibagi menjadi dua: a). Keraguan disebabkan kegoncangan jiwa dan terjadinya proses perubahan dalam pribadinya. Hal ini merupakan kewajaran. b). Keraguan disebabkan adanya kontradiksi atas kenyataan yang dilihatnya dengan apa yang diyakininya, atau dengan pengetahuan yang dimiliki.

4. Tidak percaya atau cenderung ateis

Perkembangan kearah tidak percaya pada Tuhan sebenarnya mempunyai akar atau sumber dari masa kecil. Apabila seorang anak merasa tertekan oleh kekuasaan atau kezaliman orang tua, maka ia telah memendam sesuatu tantangan terhadap kekuasaan orang tua, selanjutnya terhadap kekuasaan apa pun, termasuk kekuasaan Tuhan.

 

B.2.3 Agama Pada Masa Dewasa Dan Usia Lanjut

B.2.3.1 Agama Pada Masa Dewasa

Elizabeth B. Hurlock membagi masa dewasa menjadi tiga bagian:

a. Masa dewasa awal (masa dewasa dini/ young adult)

b. Masa dewasa madya (middle adulthood)

c. Masa usia lanjut (masa tua/ older adult)

Pembagian senada juga diungkap oleh beberapa ahli psikologi. Lewiss Sherril misalnya, membagi masa dewasa sebagai berikut :

1. Pada masa dewasa awal, masalah yang dihadapi adalah memilih arah hidupyang akan diambil dengan menghadapi godaan berbagai kemungkinan pilihan.

2. Masa dewasa tengah, sudah mulai menghadapi tantangan hidup sambil memantapkan tempat dan mengembangkan filsafat untuk mengolah kenyataan yang tidak disangka- sangka.

3. Masa dewasa akhir, ciri utamanya adalah “pasrah”. Pada masa ini, minat dan kegiatan kurang beragama.

 

B.2.3.2 Ciri- Ciri Sikap Keberagamaan Pada Masa Dewasa

Sejalan dengan tingkatperkembanagan usianya, sikap keberagamaan pada orang dewasa mempunyai ciri- ciri sebagai berikut:

<!–[if !supportLists]–>a) <!–[endif]–>Menerima kebenaran agama berdasarkan pertimbangan pemikiran yang matang, bukan sekedar ikut- ikutan.

<!–[if !supportLists]–>b) <!–[endif]–>Cenderung bersifat realis, sehingga norma- norma agama lebih banyak diaplikasikan dalam sikap dan tingkah laku.

<!–[if !supportLists]–>c) <!–[endif]–>Bersikap positif terhadap ajaran dan norma- norma agama dan berusaha untuk mempelajari dan memperdalam pemahaman keagamaan.

<!–[if !supportLists]–>d) <!–[endif]–>Tingkat ketaatan beragama didasarkan atas pertimbangan dan tanggung jawab diri hingga sikap keberagamaan merupakan realisasi dari sikap hidup.

<!–[if !supportLists]–>e) <!–[endif]–>Bersikap lebih terbuka dan wawasan yang lebih luas.

<!–[if !supportLists]–>f) <!–[endif]–>Bersikap lebih kritis tehadap materi ajaran agama sehingga kemantapan beragama selain didasarkan atas pertimbangan pikiran dan hati nurani.

<!–[if !supportLists]–>g) <!–[endif]–>Sikap keberagamaan cenderung mengarah kepada tipe- tipe kepribadian masing- masing.

<!–[if !supportLists]–>h) <!–[endif]–>Terlihat adanya hubungan antara sikap dan keberagamaan dengan kehidupan sosial

<!–[if !supportLists]–>i) <!–[endif]–>.

B.2.3.3 Agama Pada Usia Lanjut

Proses perkembangan manusia setelah dilahirkan secara fisiologis semakin lama menjadi lebih tua. Dengan bertambahnya usia, maka jaringan- jaringan dan sel- sel menjadi tua, sebagian regenerasi dan sebagian yang lain akan mati. Usia lanjut ini, biasanya dimulai pada usia 65 tahun. Pada usia lanjut ini, biasanya akan mengahadapi berbagai persoalan. Persoalan pertama adalah penurunan kemampuan fisik hingga kekuatan fisik berkurang, aktivitas menurun, sering mengalami gangguan kesehatan yang menyebebkan mereka kehilangan semangat. Pengaruh dari semua itu, mereka yang berada dalam usia lanjut merasa dirinya sudah tidak berharga lagi.

Ciri- Ciri Keagamaan Pada Usia Lanjut

Secara garis besar ciri- ciri keberagamaan di usia lanjut adalah:

<!–[if !supportLists]–>1. <!–[endif]–>Kehidupan keagamaan pada usia lanjut sudah mencapai tingkat kemantapan.

<!–[if !supportLists]–>2. <!–[endif]–>Meningkatnya kecenderungan untuk menerima pendapat keagamaan.

<!–[if !supportLists]–>3. <!–[endif]–>Mulai muncul pengakuan terhadap relitas tentang kehidupan akherat secara lebih sungguh- sungguh.

<!–[if !supportLists]–>4. <!–[endif]–>Sikap keagamaan cenderung mengarah kepada kebutuhan saling cinta antara sesama manusia serta sifat- sifat luhur.

<!–[if !supportLists]–>5. <!–[endif]–>Timbul rasa takut kepada kematian yang meningkat sejalan dengan pertambahan usia lanjutnya.

<!–[if !supportLists]–>6. <!–[endif]–>Perasaan takut pada kematian ini berdampak pada peningkatan pembentukan sikap keagamaan dan kepercayaan terhadap adanya kehidupan abadi (akherat).

 

B.2.4 Kematangan Beragama

Kematangan atau kedewasaan seseorang dalam beragama biasanya ditunjukkan dengan kesadaran dan keyakinan yang teguh karena menganggap benar akan agama yang dianutnya dan ia memerlukan agama dalam hidupnya.

 

B.3 Pengertian Konversi Agama

Konversi agama secara etimologi yaitu konversi berasal dari kata latin “conversio” yang berarti tobat pindah, berubah (agama). Selanjutnya kata tersebut dipakai dalam kata Inggris “conversion” yang mengandung pengertian: berubah dari suatu keadaan, atau dari suatu agama ke agama lain (change from one state, or from one religion, to another). Berdasarkan arti kata-kata tersebut dapat disimpulkan bahwa konversi agama mengandung pengertian: bertobat, berubah agama, berbalik pendirian (berlawanan arah) terhadap ajaran agama atau masuk ke dalam agama.

Ada beberapa pendapat tentang pengertian konversi agama antara lain:

a. Heirich mengatakan bahwa konversi agama adalah merupakan suatu tindakan dimana seseorang atau sekelompok orang masuk atau berpindah kesuatu sistem kepercayaan atau perilaku yang berlawanan dengan kepercayaan sebelumnya.<!–[if !supportFootnotes]–>[9]<!–[endif]–>

b. James mengatakan konversi agama adalah dengan kata kata: “to be converted, to be regenerated, to recive grace, to experience religion, to gain an assurance, are so many phrases which denote to the process, gradual or sudden, by which a self hitherro divide, and consciously wrong inferior and unhappy, becomes unified and consciously right superior and happy, in consequence of its firmer hold upon religious realities”. “berubah, digenerasikan, untuk menerima kesukaan, untuk menjalani pengalaman beragama, untuk mendapatkan kepastian adalah banyaknya ungkapan pada proses baik itu berangsur angsur atau tiba-tiba, yang di lakukan secara sadar dan terpisah-pisah, kurang bahagia dalam konsekuensi penganutnya yang berlandaskan kenyataan beragama”.<!–[if !supportFootnotes]–>[10]<!–[endif]–>

c. Sedangkan Clark memberikan definisi konversi agama yaitu: konversi agama sebagai suatu macam pertumbuhan atau perkembangan spiritual yang mengandung perubahan arah yang cukup berarti, dalam sikap terhadap ajaran dan tindak agama. Lebih jelas dan lebih tegas lagi, konversi agama menunjukan bahwa suatu perubahan emosi yang tiba-tiba kearah mendapat hidayah Allah SWT secara mendadak, telah terjadi, yang mungkin saja sangat mendalam atau dangkal, dan mungkin pula terjadi perubahan tersebut secara berangsur-angsur.<!–[if !supportFootnotes]–>[11]<!–[endif]–>

 

Dari uraian pengertian konversi agama diatas, sebagaimana dikatakan Ramayulis setidakny ada beberapa ciri utama yang dapat diambil, diataranya:

<!–[if !supportLists]–>a. <!–[endif]–>Adanya perubahan arah pandangan dan keyakinan seseorang terhadap agama dan kepercayaan yang dianutnya.

<!–[if !supportLists]–>b. <!–[endif]–>Perubahan yang terjadi di pengaruhi kondisi kejiwaan sehingga perubahan dapat terjadi secara berperoses atau secara mendadak.

<!–[if !supportLists]–>c. <!–[endif]–>Perubahan tersebut bukan hanya berlaku bagi perpindahan kepercayaan dari suatu agama ke agama lain tetapi juga termasuk perubahan pandangan terhadap agama yang di anutnya sendiri.

<!–[if !supportLists]–>d. <!–[endif]–>Selain faktor kejiwaan dan kondisi lingkungan maka perubahan itupun disebabkan faktor petunjuk dari yang maha kuasa.

 

B.4 Proses Konvesi Agama

Konversi Agama menyangkut perubahan batin seseorang secara mendasar. Menurut Jalaluddin proses konversi agama dapat diumpamakan seperti pemugaran sebuah gedung, bangun lama dibongkar dan pada tempat yang sama didirikan bangunan baru yang lain sama sekali dari bangunan sebelumnya.<!–[if !supportFootnotes]–>[12]<!–[endif]–>

Demikian pula seseorang atau suatu kelompok atau yang mengalami proses konversi agama ini. Segala bentuk kehidupan batinya yang semula mempunyai pola tersendiri berdasarkan pengalaman hidup yang dianutnya (agama), maka setelah konversi agama terjadi yang pada dirinya secara spontan pula ditinggalkan sama sekali.<!–[if !supportFootnotes]–>[13]<!–[endif]–>

Selain itu perlu kita ketahui bahwa konversi agama mengandung dua unsur sebagaimana yang dinyatakan Penido yatu: a.) Unsur dari dalam diri (endogenos origin), yaitu proses perubahan yang terjadi dalam diri seseorang atau kelompok. Konversi yang terjadi dalam batin ini membentuk suatu kesadaran untuk mengadakan suatu transformasi disebabkan oleh krisis yang terjadi dan keputusan yang di ambil seseorang berdasarkan pertimbangan pribadi. Proses ini terjadi menurut gejala psikologis yang bereaksi dalam bentuk hancurnya struktur psikologis yang lama dan seiring dengan proses tersebut muncul pula struktur psikologis baru yang dipilih.; b). Unsur dari luar (exogenous origin), yaitu proses perubahan yang berasal dari luar diri atau kelompok sehingga mampu menguasai kesadaran orang atau kelompok yang bersangkutan. Kekuatan yang berasal dari luar ini kemudian menekan pengaruhnya terhadap kesadaran mungkin berupa tekanan batin, sehingga memerlukan penyelesaian oleh yang bersangkutan. Sedangkan Carrier (dalam Ramayulis, 2002), membagi proses tersebut dalamtahapan-tahapan sebagai berikut: a). Terjadi desintegrasi sintesis kognitif (kegoncangan jiwa) dan motivasisebagai akibat dari krisis yang dialami. b). Reintegrasi (penyatuan kembali) kepribadian berdasarkan konsepsi agama yang baru. Dengan adanya reintegrasi ini maka terciptalah kepribadian baru yang berlawanan dengan struktur yang lama. c). Tumbuh sikap menerima konsepsi (pendapat) agama yang baru serta peranan yang di tuntut oleh ajarannya. d. Timbul kesadaran bahwa keadaan yang baru itu merupakan panggilan suci petunjuk Tuhan.<!–[if !supportFootnotes]–>[14]<!–[endif]–>

Menurut Wasyim (dalam Sudarno, 2000) secara garis besar membagi proses konversi agama menjadi tiga, yaitu:

a. Masa Gelisah (unsert), kegelisahan atau ketidaktenangan karena adanya gap antara seseorang yang beragama dengan Tuhan yang di sembah. Ditandai dengan adanya konflik dan perjuangan mental aktif.

b. Adanya rasa pasrah

c. Pertumbuhan secara perkembangan yang logis, yakni tampak adanya realisasi dan ekspresi konversi yang dialami dalam hidupnya.

Dari beberapa proses konversi agama diatas sebanarnya secara garis besar bahwa terjadnya perubahan arah tersebut tentunya tidak terlepas dari beberapa pengaruh, baik itu pengaruh luar maupun dalam

 

B.5 Faktor-Faktor Penyebab Konversi Agama

Berbagai ahli berbeda pendapat dalam menentukan faktor yang menjadi pendorong konversi agama. William James dan Heirich mengemukakan pendapat dari berbagai ahli yang memiliki disiplin ilmu berbeda diantaranya para ahli agama menyatakan bahwa yang menjadi faktor pendorong terjadinya konversi agama adalah petunjuk ilahi. Pengaruh supernatural berperan secara dominan dalam proses terjadinya konversi agama pada diri seseorang atau kelompok. Sedangkan para ahli sosiolog berpendapat bahwa yang menyebabkan terjadinya konversi agama yaitu lebih disebabkan oleh pengaruh sosial. Pengaruh sosial yang mendorong terjadinya konversi itu terdiri dari adanya berbagai faktor antara lain:

<!–[if !supportLists]–>1. <!–[endif]–>Pengaruh hubungan antara pribadi baik pergaulan yang bersifat keagamaan maupun non agama (kesenian, ilmu pengetahuan, ataupun bidang keagamaan yang lain).

2. Pengaruh kebiasaan yang rutin. Pengaruh ini dapat mendorong seseorang atau kelompok untuk berubah kepercayaan jka dilakukan secara rutin hingga terbiasa. Misal, menghadiri upacara keagamaan.

3. Pengaruh anjuran atau propaganda dari orang-orang yang dekat, misalnya: karib, keluarga, famili dan sebagainya.

4. Pengaruh pemimpin keagamaan. Hubungan yang baik dengan pemimpinagama merupakan salah satu pendorong konversi agama.

5. Pengaruh perkumpulan yang berdasarkan hobi. Perkumpulan yang dimaksud seseorang berdasarkan hobinya dapat pula menjadi pendorong terjadinya konversi agama.

6. Pengaruh kekuasaan pemimpin. Yang dimaksud disini adalah pengaruh kekuasaan pemimpin berdasarkan kekuatan hukum. Misal, kepala Negara, raja.

Pengaruh-pengaruh tersebut secara garis besarnya dapat dibagi menjadi dua, yaitu pengaruh yang mendorong secara pesuasif (secara halus) dan pengaruh yang bersifat koersif (memaksa).

Para ahli ilmu jiwa berpendapat bahwa yang menjadi pendorong terjadinya konversi agama adalah faktor psikologis yang ditimbulkan oleh faktor intern maupun faktor ekstern. Faktor-faktor tersebut apabila mempengaruhi seseorang atau kelompok hingga menimbulkan semacam gejala tekanan batin, maka akan terdorong untuk mencari jalan keluar yaitu ketenangan batin. Dalam kondisi jiwa yang demikian itu secara psikologis kehidupan seseorang itu menjadi kosong dan tak berdaya sehingga ia mencari perlindungan kekuatan lain yang mampu memberinya kehidupan jiwa yang tenang dan tentram. Masalah-masalah yang menyangkut terjadinya konversi agama, berdasarkan tinjauan psikologi tersebut yaitu dikarenakan beberapa faktor antaralain:

a. Faktor Intern meliputi, pertama, Kepribadian. Secara psikologis tipe kepribadian tertentu akan mempengaruhi kehiduan jiwa seseorang. Dalam penelitiannya, James (dalam Ramayulis, 2002) menemukan bahwa tipe melankolis (orang yang bertipe melankolis memiliki sifat mudah sedih, mudah putus asa, salah satu pendukung seseorang melakukan konversi agama adalah jika seseorang itu dalam keadaan putus asa) yang memiliki kerentanan perasaan lebih mendalam dapat menyebabkan terjadinya konversi agama dalam dirinya. Kedua, faktor pembawaan. Menurut Sawanson (dalam Ramayulis, 2002) ada semacam kecenderungan urutan kelahiran mempengaruhi konversi agama. Anak sulung dan anak bungsu biasanya tidak mengalami tekanan batin, sedangkan anak-anak yang dilahirkan pada urutan antara keduanya sering mengalami stress jiwa, karena pada umumnya anak tengah kurang mendapatkan perhatian orangtua. Kondisi yang dibawa berdasarkan urutan kelahiran itu banyak mempengaruhi terjadinya konversi agama.

b. Faktor Ekstern meliputi, pertama faktor keluarga. keretakan keluarga,ketidakserasian, berlainan agama, kesepian, kesulitan seksual, kurang mendapatkan pengakuan kaum kerabat dan alinnya. Kondisi yang demikian menyebabkan seseorang akan mengalami tekanan batin sehingga sering terjadi konversi agama dalam usahanya untuk meredakan tekanan batin yang menimpa dirinya. Kedua, Lingkungan tempat tinggal. Orang yang merasa terlempar dari lingkungan tempat tinggal atau tersingkir dari kehidupan di suatu tempat merasa dirinya hidup sebatang kara. Keadaan yang demikian menyebabkan seseorang mendambakan ketenangan dan mencari tempat untuk bergantung hingga kegelisahan batinnya hilang. Ketiga, Perubahan status. Perubahan status terutama yang berlangsung secara mendadak akan banyak mempengaruhi terjadinya konversi agama, misalnya: perceraian, keluar dari sekolah atau perkumpulan, perubahan pekerjaan, menikah dengan orang yang berbeda agama dan sebagainya. Keempat, Kemiskinan. Kondisi sosial ekonomi yang sulit juga merupakan faktor yang mendorong dan mempengaruhi terjadinya konversi agama.

Selanjutnya, Para ahli ilmu pendidikan berpendapat bahwa konversi agama dipengaruhi oleh kondisi pendidikan. Penelitian ilmu sosial menampilkan data dan argumentasi bahwa suasana pendidikan ikut mempengaruhi konversi agama. Walaupun belum dapat dikumpulkan data secara pasti tentang pengaruh lembaga pendidikan terhadap konversi agama namun berdirinya sekolah-sekolah yang bernaung di bawah yayasan agama tentunya mempunyai tujuan keagamaan pula.

Menurut Daradjat (1986), faktor-faktor terjadinya konversi agama meliputi:

1. Pertentangan batin (konflik jiwa) dan ketegangan perasaan, orang-orang yang gelisah, di dalam dirinya bertarung berbagai persoalan, yang kadang-kadang dia merasa tidak berdaya menghadapi persoalan atau problema, itu mudah mengalami konversi agama. Di samping itu sering pula terasa ketegangan batin, yang memukul jiwa , merasa tidak tenteram, gelisah yang kadang-kadang terasa tidak ada sebabnya dan kadang-kadang tidak diketahui. Dalam semua konversi agama, boleh dikatakan, latar belakang yang terpokok adalah konflik jiwa (pertentangan batin) dan ketegangan perasaan, yang mungkin disebabkan oleh berbagai keadaan.

2. Pengaruh hubungan dengan tradisi agama, diantara faktor-faktor penting dalam riwayat konversi itu, adalah pengalaman-pengalaman yang mempengaruhinya sehingga terjadi konversi tersebut. Diantara pengaruh yangterpenting adalah pendidikan orang tua di waktu kecil mempunyai pengaruh yang besar terhadap diri orang-orang, yang kemudian terjadi padanya konflik konversi agama, adalah keadaan mengalami ketegangan yang konflik batin itu, sangat tidak bisa, tidak mau, pengalaman di waktu kecil, dekat dengan orang tua dalam suasana yang tenang dan aman damai akan teringat dan membayang-bayang secara tidak sadar dalam dirinya. Keadaan inilah yang dlam peristiwa-peristiwa tertentu menyebabkan konversi tiba-tiba terjadi. Faktor lain yang tidak sedikit pengaruhnya adalah lembaga-lembaga keagamaan, masjid-masjid atau gerejagereja. Melalui bimbingan lembaga-lembaga keagamaan itu, termasuk salah satu faktor penting yang memudahkan terjadinya konversi agama jika pada umur dewasanya ia kemudian menjadi acuh tak acuh pada agama dan mengalami konflik jiwa atau ketegangan batin yang tidak teratasi.

3.Ajakan/seruan dan sugesti, banyak pula terbukti, bahwa diantara peristiwa konversi agama terjadi karena pengaruh sugesti dan bujukan dari luar. Orang-orang yang gelisah, yang sedang mengalami kegoncangan batin, akan sangat mudah menerima sugesti atau bujukan-bujukan itu. Karena orang-orang yang sedang gelisah atau goncangan jiwanya itu, ingin segera terlepas dari penderitaannya, baik penderitaan itu disebabkan oleh keadaan ekonomi, sosial, rumah tangga, pribadi atau moral.

4. Faktor-faktor emosi, orang-orang yang emosionil (lebih sensitif atau banyak dikuasai oleh emosinya), mudah kena sugesti, apabila ia sedang mengalami kegelisahan. Kendatipun faktor emosi, secara lahir tampaknya tidak terlalu banyak pengaruhnya, namun dapat dibuktikan bahwa, emosi adalah salah satu faktor yang ikut mendorong kepada terjadinya konversi agama, apabila ia sedang mengalami kekecewaan. e. Kemauan, kemauan yang dimaksudkan adalah kemauan seseorang itu sendiri untuk memeluk kepercayaan yang lain.

Selain faktor-faktor diatas, Sudarno menambahkan empat faktor pendukung, yaitu: (a. Cinta, cinta merupakan anugrah yang harus dipelihara, tanpa cinta hidup tidak akan menjadi indah dan bahagia, cinta juga merupakan salah satu fungsi sebagai psikologi dan merupakan fitrah yang diberikan kepada manusia ataupun binatang yang banyak mempengaruhi hidupnya, seseorang dapat melakukan konversi agama karena dilandaskan perasaan cinta kepada pasangannya. (b. Pernikahan, adalah salah suatu perwujudan dari perasaan saling mencintai dan menyayangi. (c. Hidayah “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang-orang yang dikendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk ”(QS. Al-Qasas:56)“Barang siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki kelangit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman”. (QS. Al An’am: 125)

Ayat-ayat Al-Qur’an diatas dapat diambil kesimpulan bahwa bagaimanapun usaha orang untuk mempengaruhi seseorang untuk mengikuti keyakinannya, tanpa ada kehendak dari Allah SWT tidak akan bisa. Manusia diperintah oleh Allah SWT untuk berusaha, namun jangan sampai melawan kehendak Allah SWT dengan segala pemaksaan.<!–[if !supportFootnotes]–>[15]<!–[endif]–> (d. Kebenaran agama, menurut Djarnawi (Sudarno, 2000) agama yang benar adalah yang tepat memilih Tuhannya, tidak keliru pilih yang bukan Tuhan dianggap Tuhan. Kebenaran agama yang dimaksud tidak karena paksaan, bujukan dari orang lain, akan tetapi lewat kesadaran dan keinsyafan antara lain melalui dialog-dialog, ceramah, mempelajari literatur, buku-buku dan media lain

B.6 Macam- Macam Konversi Agama

Starbuck sebagaimana diungkap kembali oleh Bernard Splika membagi konversi menjadi dua macam, yaitu:

a. Type volitional (perubahan secara bertahap) yaitu konversi yang terjadi secara berproses, sedikit demi sedikit hingga kemudian menjadi seperangkat aspek dan kebiasaan ruhaniah yang baru.

b. Type self surrender (perubahan secara drastis) yaitu konversi yang terjadi secara mendadak. Seseorang tanpa mengalami proses tertentu tiba- tiba berubah pendiriannya terhadap suatu agama yang dianutnya. Perubahan tersebut dapat terjadi dari kondisi tidak taat menjadi taat, dari tidak kuat keimanannya menjadi kuat keimanannya, dari tidak percaya kepada suatu agama menjadi percaya dan sebagainya.

Sedangkan jenis-jenis konversi agama dibedakan menjadi dua sebagaimana yang dikatakan Moqsith, yaitu:<!–[if !supportFootnotes]–>[16]<!–[endif]–>

a. Konversi internal, terjadi saat seseorang pindah dari mazhab dan perspektif tertentu ke mazhab dan perspektif lain, tetapi masih dalam lingkungan agama yang sama.

b. Konversi eksternal, terjadi jika seseorang pindah dari satu agama ke agama lain.

 

C. Penutup

Konversi agama merupakan suatu tindakan dimana seseorang atau sekelompok orang masuk atau berpindah dari suatu sistem kepercayaan atau perilaku ke system kepercayaan yang lain. Secara garis besar yang menjadi penyebab utama konversi agama tersebut yaitu karena petunjuk (hidayah Ilahi), akibat penderitaan batin ataupun pilihan diri setelah melalui pertimbangan yang masak. Pada awal-awal terjadinya perubahan itu, setiap diri merasakan kegelisahan batin. Sulit untuk menentukan secara spontan mana yang harus diikuti.

Kesulitan seperti itu wajar, karena agama sebagai keyakinan menyangkut sisi kehidupan batin seseorang yang berkaitan dengan nilai. Bagi manusia nilai merupakan sesuatu yang dianggap benar dan menyangkut pandangan hidup. Oleh karena itu selain peka, nilai juga merupakan sesuatu yang perlu dipertahankan oleh seseorang. Bahkan, pada tingkat yang paling tinggi pemeluk keyakinan itu rela mempertaruhkan nyawa demi mempertaruhkan nilai tersebut.

D. Daftar Pustaka

http://faiz_lathif.blog2.plasa.com/., diakses pada tanggal 4 Des 2008 09:11:02 GMT.

http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda http://klinis.wordpress.com/2007/12/27/konversi-agama-1/

http://www.hupelita.com/cetakartikel.php?id=53540, diakses pd tanggal 22 Okt 2008 20:49:14 GMT

http://www.syauqipress.com/cetak.php?id=11., diakses pd tgl 4 Des 2008 07:48:05 GMT

http://solilokui.multiply.com/journal/item/7, pada tanggal 12 Des 2008 11:45:31 GMT.

Purwanto, Setiyo. Konversi Agama, http://one.indoskripsi.com/node/449, diakses pd tgl 14-12-2008

Rahmat, Jalaluddin. Psikologi Agama. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005

Shihab, M. Quraish. Wawasan al-Qur’ân Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat. Bandung: Mizan. Cet. XII. 2001

Daradjat, Zakiah. Ilmu Jiwa Agama . Jakarta: Bulan Bintang, Cet. X. 1987.

<!–[if !supportFootnotes]–>

<!–[endif]–>

<!–[if !supportFootnotes]–>[2]<!–[endif]–> http://faiz_lathif.blog2.plasa.com/., diakses pada tanggal 4 Des 2008 09:11:02 GMT.

<!–[if !supportFootnotes]–>[3]<!–[endif]–> (QS. al-A’râf/7: 172), lihat M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’ân Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat, (Bandung: Mizan, Cet. XII, , 2001) h. 284

<!–[if !supportFootnotes]–>[4]<!–[endif]–> Dalam hadist nabi dikatakan: ”setiap manusia lahir dalam keadaan fitrah, kedua orang tunyalah yang menjadikannya yahudi, nasrani dan Majusi” (al-Hadis)

<!–[if !supportFootnotes]–>[5]<!–[endif]–> http://klinis.wordpress.com/2007/12/27/konversi-agama-1/

<!–[if !supportFootnotes]–>[8]<!–[endif]–> Ibid, pengaruh latar belakang sosiokultur tersebut, tidak jauh berbeda dengan marx yang hidup di lingkungan Yahudi

<!–[if !supportFootnotes]–>[9]<!–[endif]–> Setiyo purwanto, Konversi Agama, http://one.indoskripsi.com/node/449, diakses pd tgl 14-12-2008

<!–[if !supportFootnotes]–>[11]<!–[endif]–> Zakiah Daradjat,Ilmu Jiwa Agama (Jakarta: Bulan Bintang, Cet. X, 1987), Hlm. 137.

<!–[if !supportFootnotes]–>[12]<!–[endif]–> Jalaluddin, Psikologi Agama (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005) hlm. 279

<!–[if !supportFootnotes]–>[14]<!–[endif]–> http// Blog at WordPress.com diakses pd tgl 14-12-2008

<!–[if !supportFootnotes]–>[15]<!–[endif]–> Hal ini senada dengan apa yang dinyaakan dalam

<!–[if !supportFootnotes]–>[16]<!–[endif]–> (http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

Posted in psikologi | 179 Comments »

179 Responses

  1. GUY Says:

    colon cancer systems

    Buy_now it…

  2. MICHAEL Says:

    100 mile diet store

    Buy_generic meds…

  3. JEFF Says:

    mycotic aortic abdominal aneurysm

    Buy_it now…

  4. JIMMY Says:

    pain relief until root canal

    Buy_generic meds…

  5. LUKE Says:

    interactions with azithromycin and astragalus

    Buy_it now…

  6. ROGER Says:

    how to make glucose water

    Buy_it now…

  7. HARRY Says:

    how can i lower my cholesterol

    Buy_generic drugs…

  8. RUSSELL Says:

    dr loss phil ultimate weight

    Buy_no prescription…

  9. STEVE Says:

    dog retching vomiting weight loss

    Buy_generic drugs…

  10. JIM Says:

    indomethacin opthalmic drops

    Buy_generic pills…

  11. MARION Says:

    foods with triglycerides in them

    Buy_generic drugs…

  12. FERNANDO Says:

    hormone shot for prostate cancer

    Buy_generic drugs…

  13. RALPH Says:

    johns hopkins lung cancer

    Buy_drugs without prescription…

  14. ARTURO Says:

    space herpes

    Buy_now…

  15. ENRIQUE Says:

    autoimmune hepatitis glyconutrients

    Buy_generic meds…

  16. STEPHEN Says:

    advisory group on hepatitis uk

    Buy_no prescription…

  17. JEREMIAH Says:

    keynesian economics great depression

    Buy_generic drugs…

  18. COREY Says:

    tobacco alternatives herbal

    Buy_generic drugs…

  19. DAN Says:

    flat warts and probiotics

    Buy_generic drugs…

  20. ENRIQUE Says:

    medicare drugs covered

    Buy_generic meds…

  21. VIRGIL Says:

    state of arizona ontiveros drug

    Buy_now it…

  22. JOHNNIE Says:

    black molley slang drug name

    Buy_generic drugs…

  23. DOUG Says:

    remeron dreams

    Buy_it now…

  24. SHANE Says:

    sample ncp for diabetes

    Buy_without prescription…

  25. JIM Says:

    fruity taste and diabetes

    Buy_it now…

  26. TRACY Says:

    what year was advil introduced

    Buy_now it…

  27. jordan Says:

    .

    Buy rock US Charts…

  28. Charlie Says:

    .

    tnx for info!!…

  29. Frederick Says:

    .

    thanks for information!!…

Leave a Comment

Please note: Comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment.