Archives

Search

Penyesuaian Diri

June 12th, 2010 by 06422012

PENYESUAIAN DIRI

Kehidupan manusia dapat berlangsung karena adanya hubungan timbal-balik dengan lingkungan hidupnya. Dalam hubungan ini manusia dituntut untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Penyesuaian ini mengakibatkan manusia lebih banyak mengubah diri dibanding mengubah lingkungan.Tanggapan individu yang sehat terhadap diri dan kehidupannya merupakan landasan dasar untuk dapat menyesuaikan diri.

Sebagai makhluk sosial, manusia dituntut untuk mampu mengatasi segala permasalahan yang timbul sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungan sosial dan mampu menampilkan diri sesuai dengan aturan atau norma yang berlaku. Oleh karena itu setiap individu dituntut untuk menguasai ketrampilan-ketrampilan sosial dan kemampuan penyesuaian diri terhadap lingkungan sekitarnya. Ketrampilan-ketrampilan tersebut biasanya disebut sebagai aspek psikososial

Selain itu penyesuaian diri juga merupakan salah satu persyaratan penting bagi terciptanya kesehatan jiwa/mental individu. Banyak individu yang menderita dan tidak mampu mencapai kebahagiaan dalam hidupnya, karena ketidak-mampuannya dalam menyesuaikan diri, baik dengan kehidupan keluarga, sekolah, pekerjaan dan dalam masyarakat pada umumnya. Tidak jarang pula ditemui bahwa orang-orang mengalami stres dan depresi disebabkan oleh kegagalan mereka untuk melakukan penyesaian diri dengan kondisi yang penuh tekanan. Oleh sebab itu disisni kami mencoba untuk membahas secara umum tentang masalah-masalah yang berkaitan dengan penyesuaian diri dan mencoba untuk menemukan solusi yang terbaik.

PEMBAHASAN

Pengertian

Pengertian penyesuaian diri pada awalnya berasal dari suatu pengertian yang didasarkan pada ilmu biologi yang di utarakan oleh Charles Darwin yang terkenal dengan teori evolusinya. Ia mengatakan: “Genetic changes can improve the ability of organisms to survive, reproduce, and, in animals, raise offspring, this process is called adaptation”.(Microsoft Encarta Encyclopedia 2002).[1]

Sesuai dengan pengertian tersebut, maka tingkah laku manusia dapat dipandang sebagai reaksi terhadap berbagai tuntutan dan tekanan lingkungan tempat ia hidup seperti cuaca dan berbagai unsur alami lainnya. Semua mahluk hidup secara alami dibekali kemampuan untuk menolong dirinya sendiri dengan cara menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan materi dan alam agar dapat bertahan hidup. Dalam istilah psikologi, penyesuaian (adaptation dalam istilah Biologi) disebut adjusment.[2]

Adjustment itu sendiri merupakan suatu proses untuk mencari titik temu antara kondisi diri sendiri dan tuntutan lingkungan (Davidoff, 1991). Manusia dituntut untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial, kejiwaan dan lingkungan alam sekitarnya. Kehidupan itu sendiri secara alamiah juga mendorong manusia untuk terus-menerus menyesuaikan diri.[3]

Namun menurut Lazarus (1976), Haber & Runyon (1984), Atwater (1983), Powell (1983), Martin & Osborne (1989), dan Hollander (1981) penyesuaian diri adalah suatu proses perubahan dalam diri dan lingkungan, dimana individu harus dapat mempelajari tindakan atau sikap baru untuk hidup dan menghadapi keadaan tersebut sehingga tercapai kepuasan dalam diri, hubungan dengan orang lain dan lingkungan sekitar.[4]

Berdasarkan uraian yang telah diungkapkan oleh para psikolog atau ilmuan di atas dapat dikatakan bahwa penyesuaian diri merupakan suatu proses dinamis yang bertujuan untuk mengubah perilaku individu agar terjadi hubungan yang lebih sesuai antara diri individu dengan lingkungannya. Atas dasar pengertian tersebut dapat diberikan batasan bahwa kemampuan manusia sanggup untuk membuat hubungan-hubungan yang menyenangkan antara manusia dengan lingkungannya.

Aspek-Aspek Dalam Penyesuaian Diri

Menurut Atwater (1983) dalam penyesuaian diri harus dilihat dari tiga aspek yaitu diri kita sendiri, orang lain dan perubahan yang terjadi.[5] Namun pada dasarnya penyesuaian diri memiliki dua aspek yaitu: penyesuaian pribadi dan penyesuaian sosial. Untuk lebih jelasnya kedua aspek tersebut akan diuraikan sebagai berikut :

1. Penyesuaian Pribadi

Penyesuaian pribadi adalah kemampuan individu untuk menerima dirinya sendiri sehingga tercapai hubungan yang harmonis antara dirinya dengan lingkungan sekitarnya. Ia menyadari sepenuhnya siapa dirinya sebenarnya, apa kelebihan dan kekurangannya dan mampu bertindak obyektif sesuai dengan kondisi dirinya tersebut. Keberhasilan penyesuaian pribadi ditandai dengan tidak adanya rasa benci, lari dari kenyataan atau tanggungjawab, dongkol. kecewa, atau tidak percaya pada kondisi dirinya. Kehidupan kejiwaannya ditandai dengan tidak adanya kegoncangan atau kecemasan yang menyertai rasa bersalah, rasa cemas, rasa tidak puas, rasa kurang dan keluhan terhadap nasib yang dialaminya.[6]

Sebaliknya kegagalan penyesuaian pribadi ditandai dengan keguncangan emosi, kecemasan, ketidakpuasan dan keluhan terhadap nasib yang dialaminya, sebagai akibat adanya gap antara individu dengan tuntutan yang diharapkan oleh lingkungan. Gap inilah yang menjadi sumber terjadinya konflik yang kemudian terwujud dalam rasa takut dan kecemasan, sehingga untuk meredakannya individu harus melakukan penyesuaian diri.

2. Penyesuaian Sosial

Setiap individu hidup di dalam masyarakat. Di dalam masyarakat tersebut terdapat proses saling mempengaruhi satu sama lain silih berganti. Dari proses tersebut timbul suatu pola kebudayaan dan tingkah laku sesuai dengan sejumlah aturan, hukum, adat dan nilai-nilai yang mereka patuhi, demi untuk mencapai penyelesaian bagi persoalan-persoalan hidup sehari-hari. Dalam bidang ilmu psikologi sosial, proses ini dikenal dengan proses penyesuaian sosial. Penyesuaian sosial terjadi dalam lingkup hubungan sosial tempat individu hidup dan berinteraksi dengan orang lain. Hubungan-hubungan tersebut mencakup hubungan dengan masyarakat di sekitar tempat tinggalnya, keluarga, sekolah, teman atau masyarakat luas secara umum. Dalam hal ini individu dan masyarakat sebenarnya sama-sama memberikan dampak bagi komunitas. Individu menyerap berbagai informasi, budaya dan adat istiadat yang ada, sementara komunitas (masyarakat) diperkaya oleh eksistensi atau karya yang diberikan oleh sang individu.[7]

Apa yang diserap atau dipelajari individu dalam poroses interaksi dengan masyarakat masih belum cukup untuk menyempurnakan penyesuaian sosial yang memungkinkan individu untuk mencapai penyesuaian pribadi dan sosial dengan cukup baik. Proses berikutnya yang harus dilakukan individu dalam penyesuaian sosial adalah kemauan untuk mematuhi norma-norma dan peraturan sosial kemasyarakatan. Setiap masyarakat biasanya memiliki aturan yang tersusun dengan sejumlah ketentuan dan norma atau nilai-nilai tertentu yang mengatur hubungan individu dengan kelompok. Dalam proses penyesuaian sosial individu mulai berkenalan dengan kaidah-kaidah dan peraturan-peraturan tersebut lalu mematuhinya sehingga menjadi bagian dari pembentukan jiwa sosial pada dirinya dan menjadi pola tingkah laku kelompok.

Kedua hal tersebut merupakan proses pertumbuhan kemampuan individu dalam rangka penyesuaian sosial untuk menahan dan mengendalikan diri. Pertumbuhan kemampuan ketika mengalami proses penyesuaian sosial, berfungsi seperti pengawas yang mengatur kehidupan sosial dan kejiwaan. Boleh jadi hal inilah yang dikatakan Freud sebagai hati nurani (super ego), yang berusaha mengendalikan kehidupan individu dari segi penerimaan dan kerelaannya terhadap beberapa pola perilaku yang disukai dan diterima oleh masyarakat, serta menolak dan menjauhi hal-hal yang tidak diterima oleh masyarakat.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penyesuaian Diri

Menurut Powell (1983) terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi individu dalam melakukan penyesuaian diri, yang disebut sebagai resources. Resources yang memiliki asosiasi tinggi dengan penyesuaian diri dalam hidup adalah hubungan yang baik dengan keluarga dan orang lain, keadaan fisik, kecerdasan, minat diluar pekerjaan, keyakinan yang bersifat religius, kemampuan keuangan, dan impian.[8].

Faktor-faktor lain yang mempengaruhi interaksi sosial antara lain: gaya hidup, status sosial, intelegence quotion (IQ), emotional quotion (EQ), lingkungan keluarga dan pola asuh orang tua (bagi anak-anak dan remaja) (Calhoun, 1995).

Kemudian, sebenarnya perilaku tidak hanya tergantung pada dorongan motivasi diri, banyak hambatan dan halangan di sekitar kita baik yang eksternal (luar diri kita) maupun internal (dalam diri kita). Jika suatu dorongan atau keinginan manusia dihambat atau dihalangi, akan timbul stres. Stres dapat dianggap sebagai suatu keharusan untuk menyesuaikan diri, yang dibebankan pada individu. Keadaan, yang merupakan kekuatan atau keharusan untuk menyesuaikan diri, dianggap sebagai stressor yang dapat bersifat internal atau eksternal; biasanya tidak hanya satu stressor saja yang membebani individu tetapi beberapa stressor sekaligus.[9] Selanjutnya, orang yang dapat menyesuaikan diri dengan baik adalah orang-orang yang memiliki respon-respon yang matang, efisien, memuaskan dan sehat. Sebaliknya, orang yang neurotik adalah orang yang sangat tidak efisien dan tidak pernah melaksanakan tugas secara lengkap. Istilah “sehat” berarti respons yang baik untuk kesehatan, yakni cocok untuk kodarat manusi, dalam hubungannya dengan orang lain dan dengan tanggung jawabnya. Kesehatan merupakan ciri yang khas dalam penyesuaindiri yang baik.[10]

Singkatnya meskipun memiliki kekurangan-kekurangan kepribadian, oarng yang dapat menyesuaikan diri dengan baik dapat bereaksi secara efektif terhadap situasi-situasi yang berbeda, dapat memecahkan komplik-komplik, frustasi-frustasi, dan masalah-masalah simtomatik, karena itu dia bebas dari simtom-simtom, seperti kecemasan, kronis, obsesi, atau gangguan psikofisiologis (psikosomatik).ia cukup menguhubungkan antar pribadi dan kepuasan-kepuasan yang ikut menyumbangkan kesinambungan pertumbuhan kepribadian.[11]

Langkah-Langkah Yang efektif Dalam Penyesuaian Diri

Usaha penyesuaian diri dapat berlangsung dengan baik dan dapat juga berlangsung tidak baik. Penyesuaian diri yang baik menurut Gunarsa, ( 1985; dalam Ikawati, 1994 ) mempunyai ciri-ciri : dapat diterima di suatu kelompok, dapat menerima dirinya sendiri, dapat menerima kekurangan dan kelebihan diri sendiri. Sedangkan penyesuaian diri yang tidak baik ditunjukan dengan buruknya hubungan sosial individu dengan lingkungan sekitarnya.[12]

Penyesuaian diri yang baik, yang selalu ingin diraih setiap orang, tidak akan dapat tercapai, kecuali bila kehidupan orang tersebut benar-benar terhindar dari tekanan, kegoncangan dan ketegangan jiwa yang bermacam-macam, dan orang tersebut mampu untuk menghadapi kesukaran dengan cara objektif serta berpengaruh bagi kehidupannya, serta menikmati kehidupannya dengan stabil, tenang, merasa senang, tertarik untuk bekerja, dan berprestasi.

Ada beberapa langkah efektif dalam menyesuaikan diri, diantaranya sebagaimana yang dikatakan Haber & Runyon (1984) yaitu persepsi yang akurat terhadap realitas, kemampuan untuk mengatasi kecemasan dan stres, citra diri yang positif, kemampuan untuk mengekspresikan perasaannya, serta hubungan antarpribadi yang baik.

Untuk mendapatkan solusi yang terbaik bagi gangguan penyesuaian diri, setidaknya seseorang harus mengetahui ukurang tingkat kualitas dan juga tingkat penyesuaian diri pribadi atau sosial. Apabila kita telah mengetahui penyesuaian diri yang baik dan ukuran-ukuran kesehatan mental, maka kita dapat mengarahkan usaha-usaha kita dengan baik dan efektif pada waktu kita membantu orang lain.

Langkah pertama yang kita mulai dalam proses penyesuaian diri yang baik yakni pemahaman (inisight) dan pengetahuan tentang diri sendiri (self-knowledge). Dengan insight dan self-knowledge terhadap diri sendiri, maka kita dapat mengetahui kapabilitas dan kekurangan diri kita sendiri dan kita dapat menangani secara efektif masalah-masalah penyesuaian diri. Pengetahuan tentang diri sendiri memerlukan perincian yang baik tentang kekuatan dan kelemahan kita sendiri. Dengan mengetahui kelemahan itu, sekurang-kurangnya kita berusaha untuk mengurangi atau menghilangkan pengaruh-pengaruhnya terhadap kehidupan-kehidupan kita. Dan sebaliknya, dengan mengetahui kekuatan kita sendiri, maka kita berada pada posisi yang lebih baik. Untuk menggunakannya demi pertumbuhan pribadi. Perbaikan diri dimulai dengan keberanian dan kepastian untuk menghadapi kebenaran tentang diri sendiri.

Kemudian langkah selanjutnya yakni pengendalian diri sendiri yang berarti orang-orang mengatur implus-implus, pikiran-pikiran, kebiasaan-keibiasaan, emosi-emosi dan tingkahlaku berkaitan dengan prinsip-prinsip yang dikenakan pada diri sendiri atau tuntunan-tuntunan yang dikenakan oleh masyarakat. Dengan demikian individu yang komfulsif, histris atau obsesif, atau orang yang menjadi korban kehawatiran, sifat yang terlalu berhati- hati, ledakan amarah, kebiasaan gugup, merasa sulit atau tidak mungkin menanggulangi dengan baik tugas-tugas dan masalah sehari-sehari.

Pengendalian diri adalah dasar bagi integrasi pribadi yang merupaka salah satu kualitas yang penting dari orang yang dapat menyesuaiakan diri dengan baik dan salah satu standar yang baik dalam menentukan tingkat penyesuaian diri. Selanjutnya dalam mengembangkan pengendalian dan integrasi, pembentukan “kebiasaan-kebiasan yang bermanfaat” adalah penting karena banyak penyesuaian diri individu tiap saat diakibatkan oleh tingkah laku menurut kebiasaan (habitual behavior) dan biasanya penyesuaian diri yang baik tidak dapat dirusak oleh sistem-sistem yang tidak efisien atau tidak sempurna.

Kesimpulan

Berdasarkan uraian di atas dapat dikatakan bahwa penyesuaian diri merupakan suatu proses dinamis yang bertujuan untuk mengubah perilaku individu agar terja di hubungan yang lebih sesuai antara diri individu dengan lingkungannya. Atas dasar pengertian tersebut dapat diberikan batasan bahwa kemampuan manusia sanggup untuk membuat hubungan-hubungan yang menyenangkan antara manusia dengan diri sendiri maupun lingkungannya. Kemudian selanjutnya, sebagaimana yang dijelaskan oleh Atwater (1983) bahwa dalam penyesuaian diri harus dilihat dari tiga aspek yaitu diri kita sendiri, orang lain dan perubahan yang terjadi.

Usaha penyesuaian diri dapat berlangsung dengan baik dan dapat juga berlangsung tidak baik. Penyesuaian diri yang baik seperti yang dikatakan oleh Gunarsa diatas, adalah mempunyai ciri-ciri : dapat diterima di suatu kelompok, dapat menerima dirinya sendiri, dapat menerima kekurangan dan kelebihan diri sendiri. Sedangkan penyesuaian diri yang tidak baik ditunjukan dengan buruknya hubungan sosial individu dengan lingkungan sekitarnya.

Adapun cara yang tepat dalam menyesuaikan diri setidaknya seseorang harus dapat hal-hal berikut yaitu: persepsi yang akurat terhadap realitas, kemampuan untuk mengatasi kecemasan dan stres, citra diri yang positif, kemampuan untuk mengekspresikan perasaannya, serta hubungan antar pribadi yang baik. Wallahu’alam…!

DAFTAR PUSTAKA

http://www.e-psikologi.com/remaja/160802.htm yang direkam pada 20 Feb 2008 10:00:26

GMT.

http://library.gunadarma.ac.id/files/disk1/13/jbptgunadarma-gdl-s1-2004-herdiyanma-641-bab1.pdf.

http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/05_149_KesehatanJiwadalamkehidupanmodern.pdf/05_149_KesehatanJiwadalamkehidupanmodern.html yang direkam pada 31 Jan 2008 11:00:58 GMT

Semium, Yustnus. Kesehatan Mental, Pandangan Umum Mengenai Penyesuaian Diri serta Teori-teori Terkait. Yogyakarta: Kanisius, Cet. 1, 2006

http://groups.yahoo.com/group/sekolahrumah/message/1435 yang direkam pada 4 Feb 2008 19:14:56 GMT.


[1] http://www.e-psikologi.com/remaja/160802.htm yang direkam pada 20 Feb 2008 10:00:26 GMT.

[2] Ibid

[3] Ibid

[4] http://groups.yahoo.com/group/sekolahrumah/message/1435 yang direkam pada 4 Feb 2008 19:14:56 GMT.

[5] http://library.gunadarma.ac.id/files/disk1/9/jbptgunadarma-gdl-grey-2005-anacaturri-436-.babi.pdf.

[6] http://www.e-psikologi.com/remaja/160802.htm yang direkam pada 20 Feb 2008 10:00:26 GMT

[7] Ibid.

[9]http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/05_149_KesehatanJiwadalamkehidupanmodern.pdf/05_149_KesehatanJiwadalamkehidupanmodern.html yang direkam pada 31 Jan 2008 11:00:58 GMT.

[10] Yustnus Semium, Kesehatan Mental, pandangan umum mengenaipenyesuaian diri serta teori-teori terkait (Yogyakarta: Kanisius, Cet. 1, 2006), hlm. 37

[11] Ibid.

[12] http://library.gunadarma.ac.id/files/disk1/13/jbptgunadarma-gdl-s1-2004-herdiyanma-641-bab1.pdf.

Posted in psikologi | 221 Comments »

221 Responses

  1. PATRICK Says:

    obesity in moorhead minnesota

    Buy_now…

  2. ALFRED Says:

    new birth control pill

    Buy_now it…

  3. FRED Says:

    terry abbot

    Buy_generic drugs…

  4. MARVIN Says:

    most successful diet ever

    Buy_generic pills…

  5. TERRENCE Says:

    menopause thyroid cancer

    Buy_without prescription…

  6. NATHANIEL Says:

    sleep apnea side effect of lexapro

    Buy_generic pills…

  7. IAN Says:

    boniva and bone thinning and breaks

    Buy_now it…

  8. ARTURO Says:

    macon georgia drug court

    Buy_without prescription…

  9. LAWRENCE Says:

    can iodine help thyroid function

    Buy_generic drugs…

  10. DONALD Says:

    tsa drug dogs for adoptino

    Buy_generic drugs…

  11. JOSHUA Says:

    breven medication for add

    Buy_generic drugs…

  12. JIM Says:

    boost metabolism foods

    Buy_now…

  13. GARY Says:

    substitute for diovan hct

    Buy_now…

  14. LANCE Says:

    dogs to detect cancer

    Buy_generic drugs…

  15. STANLEY Says:

    Buygeneric meds…

  16. JORDAN Says:

    Buynow it…

  17. JOHN Says:

    Buygeneric meds…

  18. BRETT Says:

    Buygeneric meds…

  19. nathaniel Says:

    .

    Search rock UK Charts…

  20. Derrick Says:

    .

    спасибо….

  21. Gilbert Says:

    .

    благодарствую!…

Leave a Comment

Please note: Comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment.