Archives

Search

Konversi Agama

June 12th, 2010 by 06422012

Konversi Agama

Pendahuluan

Sejak manusia terlahir ke muka bumi telah memiliki potensi beragama yang menurut para ahli psikologi disebut dengan Religious instinct atau biasa pula disebut Fitrah Beragama. Adanya fitrah beragama dalam kehidupan manusia tidak dapat dipungkiri. Fitrah atau naluri beragama telah ditanamkan oleh Allah.<!–[if !supportFootnotes]–>[1]<!–[endif]–>

Selain itu banyak dari kalangan ilmuan yang meyakininya melalui penelitian yang mereka lakukan. Carl Gustav Jung seoarang ahli Psikologi, misalnya, mengatakan bahwa agama termasuk dalam hal-hal yang sudah ada di alam bawah sadar secara fitri dan alami. Ia merupakan perasaan yang lahir secara internal dan kemudian berkembang melalui faktor-faktor eksternal. William Jemes seorang filosof Amerika dan ahli psikologi, mengemukakan naluri material menghubungkan manusia dengan alam material, demikian juga dengan naluri spritual menghubungkan manusia dengan alam lainnya. Artinya, adanya keinginan untuk beragama merupakan dorongan dari alam spiritual.<!–[if !supportFootnotes]–>[2]<!–[endif]–> M. Quraish Shihab berkesimpulan bahwa manusia sejak asal kejadiannya, mambawa potensi agama yang lurus. Fitrah ini akan melekat pada diri manusia untuk selama-lamanya, walaupun tidak diakui atau diabaikannya.<!–[if !supportFootnotes]–>[3]<!–[endif]–>

Namun deimikian, naluri agama tersebut mengharuskan adanya pembinaan positif dari luar dirinya, karena pengaruh eksternal juga akan mepengaruhi bagi keberlangsungan jiwa keberagamaanya.<!–[if !supportFootnotes]–>[4]<!–[endif]–> Oleh sebab itu seringkali terjadi perubahan-perubahan kepercayaan atau keyakinan terjadi pada masyarakat yang disebabkan oleh kegoncangan jiwa mereka. Hal inilah sering disebut dengan konversi agama.

Konversi agama (religious conversion) secara umum dapat di artikan dengan berubah agama ataupun masuk agama. Menurut Thouless konversi agama adalah istilah yang pada umumnya diberikan untuk proses yang menjurus kepada penerimaan suatu sikap keagamaan, proses itu bisa terjadi secara berangsur-angsur atau secara tiba-tiba.<!–[if !supportFootnotes]–>[5]<!–[endif]–>

 

Pembahasan

B.1 Agama Bagi Manusia

Salah seorang tokoh psikologi barat , Sigmund Freud berpendaat bahwa kepercayaan kepada Tuhan adalah sebuah ilusi yang harus ditinggalkan manusia dewasa. Kebutuhan terhadap Tuhan, kata Freud, adalah kerinduan masa kanak-kanak akan ayah yang kuat dan melindungi; akan kejujuran dan keadilan, dan kehidupan yang akan berlangsung selamanya. Tuhan adalah proyeksi dari keinginan-keinginan seperti itu, ditakuti dan disembah oleh manusia akibat rasa tak berdaya di dalam diri. Agama, dalam pandangan Freud, hanya dibutuhkan manusia dalam transisi anak-anak menuju dewasa.<!–[if !supportFootnotes]–>[6]<!–[endif]–> Selanjutnya, ia juga berpendapat bahwa agama adalah penghiburan yang dibutuhkan manusia karena bengisnya hidup di dunia ini.<!–[if !supportFootnotes]–>[7]<!–[endif]–> Dan pendapat ini pula didukung oleh Marx yang mengemukakan bahwa agama adalah candu (ovium).

Menurut para “ahli” diatas, agama tak lain hanya sekedar pelarian manusia dari dunia yang tidak berpengharapan ini. Ketika manusia menghadapi konflik dalam hidupnya maka ia membutuhkan “obat” untuk meredakan “rasa sakit” itu.

Pandangan para tokoh tersebut, sebenarnya tidak terlepas dari latar belakang kehidupan mereka, misalanya saja freud yang lahir dari keluarga yahudi, dan rupanya mendapatkan akar kebenciannya terhadap agama karena situasi saat itu yang anti-semitik. Ia adalah seorang Yahudi yang tinggal di lingkungan Kristen dan hanya memiliki beberapa teman Yahudi yang tidak saling mencaci dan meghina.

Pengalaman-pengalamannya dengan ritual Katolik diperoleh dari perawatnya, seorang perempuan Ceko yang mengasuhnya dari kanak-kanak. Hans Kung mempertanyakan tentang kemuakan Freud terhdap doktrin Kristen. Apakah hal itu bermula dari pengajaran-pengajaran perempuan Ceko yang mengasuhnya itu? Perempuan itulah yang dianggap telah “membantu” Freud memahami jabaran-jabaran liturgis tentang “perilaku Tuhan”.Freud kemudian mulai menampakkan taringnya dengan menerbitkan artikel pertamanya pada tahun 1907, yang berjudul “Perilaku Obsesif dan Praktek Agama”. Dalam artikel ini Freud menyebut kegilaan obsesif sebagai ” bagian patologis bentuk agama” dan agama sendiri sebagai “kegilaan obsesi universal”.<!–[if !supportFootnotes]–>[8]<!–[endif]–>

Rupanya Freud berkesimpulan bahwa segala macam ritual dan upacara keagamaan adalah bentuk kegilaan obsesif manusia semata. Karena manusia tidak sadar ketika melakukan ritual-ritual tersebut.

Pendapat-pendapat para “ahli” diatas sebenarnya dengan mudah dapat terbantahkan, ketika kita mengaitkanya kepada ajaran Islam. Sebab pada dasarnya Islam adalah ajaran yang mengajarkan seluruh aspek kehidupan manusia, selain itu, iapun sebagai pedoman bagi kehidupan manusia. Seluruh tingkah laku manusia dalam Islam merupakan bentuk ibadah terhadap Tuhan, tentunya apabila itu semua didasari dengan ajaran islam itu sendiri. Adapun ibadah ritual keagamaan (ibadah mahdhoh), sebenarnya itu tidak hanya bersifat ritual belaka namun itu juga adalah bentuk komunikasi antara seorang hamba dan Kholiknya. Selain itu, ibadah tersebut juga merupakan wujud rasa syukur manusia terhadap Tuhan.

Dalam pandangan Islam, agama adalah kebutuhan pokok yang tidak dapat ditinggalkan maupun dilupakan, bahkan tidak sesaat-pun manusia mampu meninggalkan agamanya, yang mana agama adalah pandangan hidup dan praktik penuntun hidup dan kehidupan, sejak lahir sampai mati, bahkan sejak mulai tidur sampai kembali tidur agama selalu akan memberikan bimbingan, demi menuju hidup sejahtera dunia dan akhirat. Kebutuhan manusia terhadap agama disini tidak sekedar sebagaimana butuhnya materi, besar dari pada kebutuhan materil.

Pandangan para tokoh diatas pada dasarnya bertentangan dengan hati nurani mereka, sebab walau bagaimanapun manusia diberikan potensi beragama (instinct religious), dan kemampuanya yang terbatas mengharuskan dirinya untuk meminta pertolongan kepada yang ada diluar dirinya. Hal ini tentunya tidak hanya didasarkan pada asumsi semata, namun juga ini didasakan pada pemikiran dan penelitian, baik itu dari kalangan ilmuan muslim maupun barat.

 

B.2 Perkembangan Jiwa Beragama Bagi Manusia

Dalam rentang kehidupan terdapat beberapa tahap perkembangan. Menurut Kohnstamm, tahap perkembangan kehidupan manusia dibagi menjadi lima periode, yaitu:

<!–[if !supportLists]–>a) <!–[endif]–>Umur 0 – 3 tahun, periode vital atau menyusuli.

<!–[if !supportLists]–>b) <!–[endif]–>Umur 3 – 6 tahun, periode estetis atau masa mencoba dan masa bermain.

<!–[if !supportLists]–>c) <!–[endif]–>Umur 6 – 12 tahun, periode intelektual (masa sekolah)

<!–[if !supportLists]–>d) <!–[endif]–>Umur 12 – 21 tahun, periode social atau masa pemuda.

<!–[if !supportLists]–>e) <!–[endif]–>Umur 21 tahun keatas, periode dewasa atau masa kematangan fisik dan psikis seseorang.

Elizabeth B. Hurlock merumuskan tahap perkembangan manusia secara lebih lengkap sebagai berikut: 1). Masa Pranatal, saat terjadinya konsepsi sampai lahir; 2). Masa Neonatus, saat kelahiran sampai akhir minggu kedua; 3). Masa Bayi, akhir minggu kedua sampai akhir tahun kedua; 4). Masa Kanak- Kanak awal, umur 2 – 6 tahun; 5). Masa Kanak- Kanak akhir, umur 6 – 10 atau 11 tahun; 6). Masa Pubertas (pra adolesence), umur 11 – 13 tahun; 7). Masa Remaja Awal, umur 13 – 17 tahun. Masa remaja akhir 17 – 21 tahun; 8). Masa Dewasa Awal, umur 21 – 40 tahun; 9). Masa Setengah Baya, umur 40 – 60 tahun; 10). Masa Tua, umur 60 tahun keatas.

B.2.1 Perkembangan Agama Pada Anak

Sebagaimana dijelaskan diatas, yang dimaksud dengan masa anak- anak adalah sebelum berumur 12 tahun. Jika mengikuti periodesasi yang dirumuskan Elizabeth B. Hurlock, dalam masa ini terdiri dari tiga tahapan:

<!–[if !supportLists]–>a) <!–[endif]–>0 – 2 tahun (masa vital)

<!–[if !supportLists]–>b) <!–[endif]–>2 – 6 tahun (masa kanak- kanak)

<!–[if !supportLists]–>c) <!–[endif]–>6 – 12 tahun (masa sekolah)

Anak mengenal Tuhan pertama kali melalui bahasa dari kata- kata orang yang ada dalam lingkungannya, yang pada awalnya diterima secara acuh. Tuhan bagi anak pada permulaan merupakan nama sesuatu yang asing dan tidak dikenalnya serta diragukan kebaikan niatnya. Tidak adanya perhatian terhadap tuhan pada tahap pertama ini dikarenakan ia belum mempunyai pengalaman yang akan membawanya kesana, baik pengalaman yang menyenangkan maupun yang menyusahkan. Namun, setelah ia menyaksikan reaksi orang- orang disekelilingnya yang disertai oleh emosi atau perasaan tertentu yang makin lama makin meluas, maka mulailah perhatiannya terhadap kata tuhan itu tumbuh.

Perasaan si anak terhadap orang tuanya sebenarnya sangat kompleks. Ia merupakan campuran dari bermacam- macam emosi dan dorongan yang saling bertentangan. Menjelang usia 3 tahun yaitu umur dimana hubungan dengan ibunya tidak lagi terbatas pada kebutuhan akan bantuan fisik, akan tetapi meningkat lagi pada hubungan emosi dimana ibu menjadi objek yang dicintai dan butuh akan kasih sayangnya, bahkan mengandung rasa permusuhan bercampur bangga, butuh, takut dan cinta padanya sekaligus.

Menurut Zakiah Daradjat, sebelum usia 7 tahun perasaan anak terhadap tuhan pada dasarnya negative. Ia berusaha menerima pemikiran tentang kebesaran dan kemuliaan Tuhan. Sedang gambaran mereka tentang Tuhan sesuai dengan emosinya. Kepercayaan yang terus menerus tentang Tuhan, tempat dan bentuknya bukanlah karena rasa ingin tahunya, tapi didorong oleh perasaan takut dan ingin rasa aman, kecuali jika orang tua anak mendidik anak supaya mengenal sifat Tuhan yang menyenangkan. Namun pada pada masa kedua (27 tahun keatas) perasaan si anak terhadap Tuhan berganti positif (cinta dan hormat) dan hubungannya dipenuhi oleh rasa percaya dan merasa aman.

B.2.2 Tahap Perkembangan Beragama Pada Anak

Menurut penelitian Earnest Harms perkembangan agama anak-anak itu melalui beberapa fase (tingkatan). Dalam bukunya The Development of Relogeus On Children, ia mengatakan bahwa perkembangan agama itu mealui tiga tingkatan, tiga:

1. The Fairly Tale Stage (Tingkat Dongeng)

Pada tahap ini anak yang berumur 3 – 6 tahun, konsep mengeanai Tuhan banyak dipengaruhi oleh fantasi dan emosi, sehingga dalam menanggapi agama anak masih menggunakan konsep fantastis yang diliputi oelh dongeng- dongeng yang kurang ,masuk akal. Cerita akan Nabi akan dikhayalkan seperti yang ada dalam dongeng- dongeng.

Pada usia ini, perhatian anak lebih tertuju pada para pemuka agama daripada isi ajarannya dan cerita akan lebih menarik jika berhubungan dengan masa anak-anak karena sesuai dengan jiwa kekanak- kanakannya. Dengan caranya sendiri anak mengungkapkan pandangan teologisnya, pernyataan dan ungkapannya tentang Tuhan lebih bernada individual, emosional dan spontan tapi penuh arti teologis.

2. The Realistic Stage (Tingkat Kepercayaan)

Pada tingkat ini pemikiran anak tentang Tuhan sebagai bapak beralih pada Tuhan sebagai pencipta. Hubungan dengan Tuhan yang pada awalnya terbatas pada emosi berubah pada hubungan dengan menggunakan pikiran atau logika.

Pada tahap ini teradapat satu hal yang perlu digaris bawahi bahwa anak pada usia 7 tahun dipandang sebagai permulaan pertumbuhan logis, sehingga wajarlah bila anak harus diberi pelajaran dan dibiasakan melakukan shalat pada usia dini dan dipukul bila melanggarnya.

3. The Individual Stage (Tingkat Individu)

Pada tingkat ini anak telah memiliki kepekaan emosi yang tinggi, sejalan dengan perkembangan usia mereka. Konsep keagamaan yang diindividualistik ini terbagi menjadi tiga golongan:

a. Konsep ketuhanan yang konvensional dan konservatif dengan dipengaruhi sebagian kecil fantasi.

b. Konsep ketuhanan yang lebih murni, dinyatakan dengan pandangan yang bersifat personal (perorangan).

c. Konsep ketuhanan yang bersifat humanistik, yaitu agama telah menjadi etos humanis dalam diri mereka dalam menghayati ajaran agama.

Berkaitan dengan masalah ini, imam bawani membagi fase perkembangan agama pada masa anak menjadi empat bagian, yaitu:

a. Fase dalam kandungan

untuk memahami perkembangan agama pada masa ini sangatlah sulit, apalagi yang berhubungan dengan psikis ruhani. Meski demikian perlu dicatat bahwa perkembangan agama bermula sejak Allah meniupkan ruh pada bayi, tepatnya ketika terjadinya perjanjian manusia atas tuhannya.

b. Fase bayi

Pada fase kedua ini juga belum banyak diketahui perkembangan agama pada seorang anak. Namun isyarat pengenalan ajaran agama banyak ditemukan dalam hadis, seperti memperdengarkan adzan dan iqamah saat kelahiran anak.

c. Fase kanak- kanak

Masa ketiga tersebut merupakan saat yang tepat untuk menanamkan nilai keagamaan. Pada fase ini anak sudah mulai bergaul dengan dunia luar. Banyak hal yang ia saksikan ketika berhubungan dengan orang-orang orang disekelilingnya. Dalam pergaulan inilah ia mengenal Tuhan melalui ucapan- ucapan orang disekelilingnya. Ia melihat perilaku orang yang mengungkapkan rasa kagumnya pada Tuhan. Anak pada usia kanak- kanak belum mempunyai pemahaman dalam melaksanakan ajaran Islam, akan tetapi disinilah peran orang tua dalam memperkenalkan dan membiasakan anak dalam melakukan tindakan- tindakan agama sekalipun sifatnya hanya meniru.

d. Masa anak sekolah

Seiring dengan perkembangan aspek- aspek jiwa lainnya, perkembangan agama juga menunjukkan perkembangan yang semakin realistis. Hal ini berkaitan dengan perkembangan intelektualitasnya yang semakin berkembang.

Sedangkan sifat agama pada dapat dibagi menjadi enam bagian: Unreflective (kurang mendalam/ tanpa kritik), Egosentris, Anthromorphis Verbalis dan Ritualis, imitative.

B.2.2 Agama Pada masa Remaja

B.2.2.1 Perkembangan Jiwa Beragama Pada Remaja

Dalam peta psikologi remaja terdapat tiga bagian:

1. Fase Pueral

Pada masa ini remaja tidak mau dikatakan anak- anak, tetapi juga tidak bersedia dikatakan dewasa. Pada fase pertama ini merasa tidak tenang.

2. Fase Negative

Fase kedua ini hanya berlangsung beberapa bulan saja, yang ditandai oleh sikap ragu- ragu, murung, suka melamun dan sebagainya.

3. Fase Pubertas

Masa ini yang dinamakan dengan Masa Adolesen

Dalam pembahasan ini , Luella Cole sebagaimana disitir kembali oleh Hanna Jumhanna Bastaman, membagi peta remaja menjadi empat bagian:

1. Preadolescence : 11-13 tahun (perempuan) dan 13-15 tahun (laki- laki)

2. Early Adolescence : 13-15 tahun (perempuan) dan 15-17 tahun (laki- laki)

3. Middle Adolescence : 15-18 tahun (perempuan) dan 17-19 tahun (laki- laki)

4. Late Adolescence : 18-21 tahun (perempuan) dan 19-21 tahun (laki- laki)

 

B.2.2.3 Perasaan Beragama Pada Remaja

Gambaran remaja tentang Tuhan dengan sifat- sifatnya merupakan bagian dari gambarannya terhadap alam dan lingkungannya serta dipengaruhi oleh perasaan dan sifat dari remaja itu sendiri. Keyakinan agama pada remaja merupakan interaksi antara dia dengan lingkungannya. Misalnya, kepercayaan remaja akan kekuasaan tuhan menyebabkannya pelimpahan tanggung jawab atas segala persoalan kepada tuhan, termasuk persoalan masyarakat yang tidak menyenangkan, seperti kekacauan, ketidak adilan, penderitaan, kezaliman, persengkataan, penyelewengan dan sebagainya yang terdapat dalam masyarakat akan menyebabkan mereka kecewa pada Tuhan, bahkan kekecewaan tersebut dapat menyebabkan memungkiri kekuasaan tuhan sama sekali.

Perasaan remaja kepada Tuhan bukanlah tetap dan stabil, akan tetapi adalah perasaan yang yang tergantung pada perubahan- perubahan emosi yang sangat cepat, terutama pada masa remaja pertama. Kebutuhan akan Allah misalnya, kadang- kadang tidak terasa jika jiwa mereka dalam keadaan aman, tentram dan tenang. Sebaliknya, Allah sangat dibutuhkan apabila mereka dalam keadaan gelisah, karena menghadapi musibah atau bahaya yang mengancam ketika ia takut gagal atau merasa berdosa.

B.2.2.3. Motivasi Beragama Pada Remaja

Menurut Nico Syukur Dister Ofm, motifasi beragama dibagi menjadi empat motivasi, yaitu:

1. Motivasi yang didorong oleh rasa keinginan untuk mengatasi frustasi yang ada dalam kehidupan, baik frustasi karena kesukaran dalam menyesuaikan diri dengan alam, frustasi social, frustasi moral maupun frustasi karena kematian.

2. Motivasi beragama karena didorong oleh keinginan untuk menjaga kesusilaan dan tata tertib masyarakat.

3. Motivasi beragama karena didorong oleh keinginan untuk memuaskan rasa ingin tahu manusia atau intelek ingin tahu manusia.

4. Motivasi beragama karena ingin menjadikan agama sebagai sarana untuk mengatasi ketakutan.

 

B.2.2.4 Sikap Remaja Dalam Beragama

Terdapat empat sikap remaja dalam beragama, yaitu:

1. Percaya ikut- ikutan

Percaya ikut- ikutan ini biasanya dihasilkan oleh didikan agama secara sederhana yang didapat dari keluarga dan lingkungannya. Namun demikian ini biasanya hanya terjadi pada masa remaja awal (usia 13-16 tahun). Setelah itu biasanya berkembang kepada cara yang lebih kritis dan sadar sesuai dengan perkembangan psikisnya.

2. Percaya dengan kesadaran

Semangat keagamaan dimulai dengan melihat kembali tentang masalah- masalah keagamaan yang mereka miliki sejak kecil. Mereka ingin menjalankan agama sebagaio suatu lapangan yang baru untuk membuktikan pribadinya, karena ia tidak mau lagi beragama secara ikut- ikutan saja. Biasanya semangat agama tersebut terjadi pada usia 17 tahun atau 18 tahun. Semangat agama tersebut mempunyai dua bentuk:

a. Dalam bentuk positif: semangat agama yang positif, yaitu berusaha melihat agama dengan pandangan kritis, tidak mau lagi menerima hal- hal yang tidak masuk akal. Mereka ingin memurnikan dan membebaskan agama dari bid’ah dan khurafat, dari kekakuan dan kekolotan.

b. Dalam bentuk negatif: Semangat keagamaan dalam bentuk kedua ini akan menjadi bentuk kegiatan yang berbentuk khurafi, yaitu kecenderungan remaja untuk mengambil pengaruh dari luar kedalam masalah- masalah keagamaan, seperti bid’ah, khurafat dan kepercayaan- kepercayaan lainnya.

3. Percaya, tetapi agak ragu- ragu: Keraguan kepercayaan remaja terhadap agamanya dapat dibagi menjadi dua: a). Keraguan disebabkan kegoncangan jiwa dan terjadinya proses perubahan dalam pribadinya. Hal ini merupakan kewajaran. b). Keraguan disebabkan adanya kontradiksi atas kenyataan yang dilihatnya dengan apa yang diyakininya, atau dengan pengetahuan yang dimiliki.

4. Tidak percaya atau cenderung ateis

Perkembangan kearah tidak percaya pada Tuhan sebenarnya mempunyai akar atau sumber dari masa kecil. Apabila seorang anak merasa tertekan oleh kekuasaan atau kezaliman orang tua, maka ia telah memendam sesuatu tantangan terhadap kekuasaan orang tua, selanjutnya terhadap kekuasaan apa pun, termasuk kekuasaan Tuhan.

 

B.2.3 Agama Pada Masa Dewasa Dan Usia Lanjut

B.2.3.1 Agama Pada Masa Dewasa

Elizabeth B. Hurlock membagi masa dewasa menjadi tiga bagian:

a. Masa dewasa awal (masa dewasa dini/ young adult)

b. Masa dewasa madya (middle adulthood)

c. Masa usia lanjut (masa tua/ older adult)

Pembagian senada juga diungkap oleh beberapa ahli psikologi. Lewiss Sherril misalnya, membagi masa dewasa sebagai berikut :

1. Pada masa dewasa awal, masalah yang dihadapi adalah memilih arah hidupyang akan diambil dengan menghadapi godaan berbagai kemungkinan pilihan.

2. Masa dewasa tengah, sudah mulai menghadapi tantangan hidup sambil memantapkan tempat dan mengembangkan filsafat untuk mengolah kenyataan yang tidak disangka- sangka.

3. Masa dewasa akhir, ciri utamanya adalah “pasrah”. Pada masa ini, minat dan kegiatan kurang beragama.

 

B.2.3.2 Ciri- Ciri Sikap Keberagamaan Pada Masa Dewasa

Sejalan dengan tingkatperkembanagan usianya, sikap keberagamaan pada orang dewasa mempunyai ciri- ciri sebagai berikut:

<!–[if !supportLists]–>a) <!–[endif]–>Menerima kebenaran agama berdasarkan pertimbangan pemikiran yang matang, bukan sekedar ikut- ikutan.

<!–[if !supportLists]–>b) <!–[endif]–>Cenderung bersifat realis, sehingga norma- norma agama lebih banyak diaplikasikan dalam sikap dan tingkah laku.

<!–[if !supportLists]–>c) <!–[endif]–>Bersikap positif terhadap ajaran dan norma- norma agama dan berusaha untuk mempelajari dan memperdalam pemahaman keagamaan.

<!–[if !supportLists]–>d) <!–[endif]–>Tingkat ketaatan beragama didasarkan atas pertimbangan dan tanggung jawab diri hingga sikap keberagamaan merupakan realisasi dari sikap hidup.

<!–[if !supportLists]–>e) <!–[endif]–>Bersikap lebih terbuka dan wawasan yang lebih luas.

<!–[if !supportLists]–>f) <!–[endif]–>Bersikap lebih kritis tehadap materi ajaran agama sehingga kemantapan beragama selain didasarkan atas pertimbangan pikiran dan hati nurani.

<!–[if !supportLists]–>g) <!–[endif]–>Sikap keberagamaan cenderung mengarah kepada tipe- tipe kepribadian masing- masing.

<!–[if !supportLists]–>h) <!–[endif]–>Terlihat adanya hubungan antara sikap dan keberagamaan dengan kehidupan sosial

<!–[if !supportLists]–>i) <!–[endif]–>.

B.2.3.3 Agama Pada Usia Lanjut

Proses perkembangan manusia setelah dilahirkan secara fisiologis semakin lama menjadi lebih tua. Dengan bertambahnya usia, maka jaringan- jaringan dan sel- sel menjadi tua, sebagian regenerasi dan sebagian yang lain akan mati. Usia lanjut ini, biasanya dimulai pada usia 65 tahun. Pada usia lanjut ini, biasanya akan mengahadapi berbagai persoalan. Persoalan pertama adalah penurunan kemampuan fisik hingga kekuatan fisik berkurang, aktivitas menurun, sering mengalami gangguan kesehatan yang menyebebkan mereka kehilangan semangat. Pengaruh dari semua itu, mereka yang berada dalam usia lanjut merasa dirinya sudah tidak berharga lagi.

Ciri- Ciri Keagamaan Pada Usia Lanjut

Secara garis besar ciri- ciri keberagamaan di usia lanjut adalah:

<!–[if !supportLists]–>1. <!–[endif]–>Kehidupan keagamaan pada usia lanjut sudah mencapai tingkat kemantapan.

<!–[if !supportLists]–>2. <!–[endif]–>Meningkatnya kecenderungan untuk menerima pendapat keagamaan.

<!–[if !supportLists]–>3. <!–[endif]–>Mulai muncul pengakuan terhadap relitas tentang kehidupan akherat secara lebih sungguh- sungguh.

<!–[if !supportLists]–>4. <!–[endif]–>Sikap keagamaan cenderung mengarah kepada kebutuhan saling cinta antara sesama manusia serta sifat- sifat luhur.

<!–[if !supportLists]–>5. <!–[endif]–>Timbul rasa takut kepada kematian yang meningkat sejalan dengan pertambahan usia lanjutnya.

<!–[if !supportLists]–>6. <!–[endif]–>Perasaan takut pada kematian ini berdampak pada peningkatan pembentukan sikap keagamaan dan kepercayaan terhadap adanya kehidupan abadi (akherat).

 

B.2.4 Kematangan Beragama

Kematangan atau kedewasaan seseorang dalam beragama biasanya ditunjukkan dengan kesadaran dan keyakinan yang teguh karena menganggap benar akan agama yang dianutnya dan ia memerlukan agama dalam hidupnya.

 

B.3 Pengertian Konversi Agama

Konversi agama secara etimologi yaitu konversi berasal dari kata latin “conversio” yang berarti tobat pindah, berubah (agama). Selanjutnya kata tersebut dipakai dalam kata Inggris “conversion” yang mengandung pengertian: berubah dari suatu keadaan, atau dari suatu agama ke agama lain (change from one state, or from one religion, to another). Berdasarkan arti kata-kata tersebut dapat disimpulkan bahwa konversi agama mengandung pengertian: bertobat, berubah agama, berbalik pendirian (berlawanan arah) terhadap ajaran agama atau masuk ke dalam agama.

Ada beberapa pendapat tentang pengertian konversi agama antara lain:

a. Heirich mengatakan bahwa konversi agama adalah merupakan suatu tindakan dimana seseorang atau sekelompok orang masuk atau berpindah kesuatu sistem kepercayaan atau perilaku yang berlawanan dengan kepercayaan sebelumnya.<!–[if !supportFootnotes]–>[9]<!–[endif]–>

b. James mengatakan konversi agama adalah dengan kata kata: “to be converted, to be regenerated, to recive grace, to experience religion, to gain an assurance, are so many phrases which denote to the process, gradual or sudden, by which a self hitherro divide, and consciously wrong inferior and unhappy, becomes unified and consciously right superior and happy, in consequence of its firmer hold upon religious realities”. “berubah, digenerasikan, untuk menerima kesukaan, untuk menjalani pengalaman beragama, untuk mendapatkan kepastian adalah banyaknya ungkapan pada proses baik itu berangsur angsur atau tiba-tiba, yang di lakukan secara sadar dan terpisah-pisah, kurang bahagia dalam konsekuensi penganutnya yang berlandaskan kenyataan beragama”.<!–[if !supportFootnotes]–>[10]<!–[endif]–>

c. Sedangkan Clark memberikan definisi konversi agama yaitu: konversi agama sebagai suatu macam pertumbuhan atau perkembangan spiritual yang mengandung perubahan arah yang cukup berarti, dalam sikap terhadap ajaran dan tindak agama. Lebih jelas dan lebih tegas lagi, konversi agama menunjukan bahwa suatu perubahan emosi yang tiba-tiba kearah mendapat hidayah Allah SWT secara mendadak, telah terjadi, yang mungkin saja sangat mendalam atau dangkal, dan mungkin pula terjadi perubahan tersebut secara berangsur-angsur.<!–[if !supportFootnotes]–>[11]<!–[endif]–>

 

Dari uraian pengertian konversi agama diatas, sebagaimana dikatakan Ramayulis setidakny ada beberapa ciri utama yang dapat diambil, diataranya:

<!–[if !supportLists]–>a. <!–[endif]–>Adanya perubahan arah pandangan dan keyakinan seseorang terhadap agama dan kepercayaan yang dianutnya.

<!–[if !supportLists]–>b. <!–[endif]–>Perubahan yang terjadi di pengaruhi kondisi kejiwaan sehingga perubahan dapat terjadi secara berperoses atau secara mendadak.

<!–[if !supportLists]–>c. <!–[endif]–>Perubahan tersebut bukan hanya berlaku bagi perpindahan kepercayaan dari suatu agama ke agama lain tetapi juga termasuk perubahan pandangan terhadap agama yang di anutnya sendiri.

<!–[if !supportLists]–>d. <!–[endif]–>Selain faktor kejiwaan dan kondisi lingkungan maka perubahan itupun disebabkan faktor petunjuk dari yang maha kuasa.

 

B.4 Proses Konvesi Agama

Konversi Agama menyangkut perubahan batin seseorang secara mendasar. Menurut Jalaluddin proses konversi agama dapat diumpamakan seperti pemugaran sebuah gedung, bangun lama dibongkar dan pada tempat yang sama didirikan bangunan baru yang lain sama sekali dari bangunan sebelumnya.<!–[if !supportFootnotes]–>[12]<!–[endif]–>

Demikian pula seseorang atau suatu kelompok atau yang mengalami proses konversi agama ini. Segala bentuk kehidupan batinya yang semula mempunyai pola tersendiri berdasarkan pengalaman hidup yang dianutnya (agama), maka setelah konversi agama terjadi yang pada dirinya secara spontan pula ditinggalkan sama sekali.<!–[if !supportFootnotes]–>[13]<!–[endif]–>

Selain itu perlu kita ketahui bahwa konversi agama mengandung dua unsur sebagaimana yang dinyatakan Penido yatu: a.) Unsur dari dalam diri (endogenos origin), yaitu proses perubahan yang terjadi dalam diri seseorang atau kelompok. Konversi yang terjadi dalam batin ini membentuk suatu kesadaran untuk mengadakan suatu transformasi disebabkan oleh krisis yang terjadi dan keputusan yang di ambil seseorang berdasarkan pertimbangan pribadi. Proses ini terjadi menurut gejala psikologis yang bereaksi dalam bentuk hancurnya struktur psikologis yang lama dan seiring dengan proses tersebut muncul pula struktur psikologis baru yang dipilih.; b). Unsur dari luar (exogenous origin), yaitu proses perubahan yang berasal dari luar diri atau kelompok sehingga mampu menguasai kesadaran orang atau kelompok yang bersangkutan. Kekuatan yang berasal dari luar ini kemudian menekan pengaruhnya terhadap kesadaran mungkin berupa tekanan batin, sehingga memerlukan penyelesaian oleh yang bersangkutan. Sedangkan Carrier (dalam Ramayulis, 2002), membagi proses tersebut dalamtahapan-tahapan sebagai berikut: a). Terjadi desintegrasi sintesis kognitif (kegoncangan jiwa) dan motivasisebagai akibat dari krisis yang dialami. b). Reintegrasi (penyatuan kembali) kepribadian berdasarkan konsepsi agama yang baru. Dengan adanya reintegrasi ini maka terciptalah kepribadian baru yang berlawanan dengan struktur yang lama. c). Tumbuh sikap menerima konsepsi (pendapat) agama yang baru serta peranan yang di tuntut oleh ajarannya. d. Timbul kesadaran bahwa keadaan yang baru itu merupakan panggilan suci petunjuk Tuhan.<!–[if !supportFootnotes]–>[14]<!–[endif]–>

Menurut Wasyim (dalam Sudarno, 2000) secara garis besar membagi proses konversi agama menjadi tiga, yaitu:

a. Masa Gelisah (unsert), kegelisahan atau ketidaktenangan karena adanya gap antara seseorang yang beragama dengan Tuhan yang di sembah. Ditandai dengan adanya konflik dan perjuangan mental aktif.

b. Adanya rasa pasrah

c. Pertumbuhan secara perkembangan yang logis, yakni tampak adanya realisasi dan ekspresi konversi yang dialami dalam hidupnya.

Dari beberapa proses konversi agama diatas sebanarnya secara garis besar bahwa terjadnya perubahan arah tersebut tentunya tidak terlepas dari beberapa pengaruh, baik itu pengaruh luar maupun dalam

 

B.5 Faktor-Faktor Penyebab Konversi Agama

Berbagai ahli berbeda pendapat dalam menentukan faktor yang menjadi pendorong konversi agama. William James dan Heirich mengemukakan pendapat dari berbagai ahli yang memiliki disiplin ilmu berbeda diantaranya para ahli agama menyatakan bahwa yang menjadi faktor pendorong terjadinya konversi agama adalah petunjuk ilahi. Pengaruh supernatural berperan secara dominan dalam proses terjadinya konversi agama pada diri seseorang atau kelompok. Sedangkan para ahli sosiolog berpendapat bahwa yang menyebabkan terjadinya konversi agama yaitu lebih disebabkan oleh pengaruh sosial. Pengaruh sosial yang mendorong terjadinya konversi itu terdiri dari adanya berbagai faktor antara lain:

<!–[if !supportLists]–>1. <!–[endif]–>Pengaruh hubungan antara pribadi baik pergaulan yang bersifat keagamaan maupun non agama (kesenian, ilmu pengetahuan, ataupun bidang keagamaan yang lain).

2. Pengaruh kebiasaan yang rutin. Pengaruh ini dapat mendorong seseorang atau kelompok untuk berubah kepercayaan jka dilakukan secara rutin hingga terbiasa. Misal, menghadiri upacara keagamaan.

3. Pengaruh anjuran atau propaganda dari orang-orang yang dekat, misalnya: karib, keluarga, famili dan sebagainya.

4. Pengaruh pemimpin keagamaan. Hubungan yang baik dengan pemimpinagama merupakan salah satu pendorong konversi agama.

5. Pengaruh perkumpulan yang berdasarkan hobi. Perkumpulan yang dimaksud seseorang berdasarkan hobinya dapat pula menjadi pendorong terjadinya konversi agama.

6. Pengaruh kekuasaan pemimpin. Yang dimaksud disini adalah pengaruh kekuasaan pemimpin berdasarkan kekuatan hukum. Misal, kepala Negara, raja.

Pengaruh-pengaruh tersebut secara garis besarnya dapat dibagi menjadi dua, yaitu pengaruh yang mendorong secara pesuasif (secara halus) dan pengaruh yang bersifat koersif (memaksa).

Para ahli ilmu jiwa berpendapat bahwa yang menjadi pendorong terjadinya konversi agama adalah faktor psikologis yang ditimbulkan oleh faktor intern maupun faktor ekstern. Faktor-faktor tersebut apabila mempengaruhi seseorang atau kelompok hingga menimbulkan semacam gejala tekanan batin, maka akan terdorong untuk mencari jalan keluar yaitu ketenangan batin. Dalam kondisi jiwa yang demikian itu secara psikologis kehidupan seseorang itu menjadi kosong dan tak berdaya sehingga ia mencari perlindungan kekuatan lain yang mampu memberinya kehidupan jiwa yang tenang dan tentram. Masalah-masalah yang menyangkut terjadinya konversi agama, berdasarkan tinjauan psikologi tersebut yaitu dikarenakan beberapa faktor antaralain:

a. Faktor Intern meliputi, pertama, Kepribadian. Secara psikologis tipe kepribadian tertentu akan mempengaruhi kehiduan jiwa seseorang. Dalam penelitiannya, James (dalam Ramayulis, 2002) menemukan bahwa tipe melankolis (orang yang bertipe melankolis memiliki sifat mudah sedih, mudah putus asa, salah satu pendukung seseorang melakukan konversi agama adalah jika seseorang itu dalam keadaan putus asa) yang memiliki kerentanan perasaan lebih mendalam dapat menyebabkan terjadinya konversi agama dalam dirinya. Kedua, faktor pembawaan. Menurut Sawanson (dalam Ramayulis, 2002) ada semacam kecenderungan urutan kelahiran mempengaruhi konversi agama. Anak sulung dan anak bungsu biasanya tidak mengalami tekanan batin, sedangkan anak-anak yang dilahirkan pada urutan antara keduanya sering mengalami stress jiwa, karena pada umumnya anak tengah kurang mendapatkan perhatian orangtua. Kondisi yang dibawa berdasarkan urutan kelahiran itu banyak mempengaruhi terjadinya konversi agama.

b. Faktor Ekstern meliputi, pertama faktor keluarga. keretakan keluarga,ketidakserasian, berlainan agama, kesepian, kesulitan seksual, kurang mendapatkan pengakuan kaum kerabat dan alinnya. Kondisi yang demikian menyebabkan seseorang akan mengalami tekanan batin sehingga sering terjadi konversi agama dalam usahanya untuk meredakan tekanan batin yang menimpa dirinya. Kedua, Lingkungan tempat tinggal. Orang yang merasa terlempar dari lingkungan tempat tinggal atau tersingkir dari kehidupan di suatu tempat merasa dirinya hidup sebatang kara. Keadaan yang demikian menyebabkan seseorang mendambakan ketenangan dan mencari tempat untuk bergantung hingga kegelisahan batinnya hilang. Ketiga, Perubahan status. Perubahan status terutama yang berlangsung secara mendadak akan banyak mempengaruhi terjadinya konversi agama, misalnya: perceraian, keluar dari sekolah atau perkumpulan, perubahan pekerjaan, menikah dengan orang yang berbeda agama dan sebagainya. Keempat, Kemiskinan. Kondisi sosial ekonomi yang sulit juga merupakan faktor yang mendorong dan mempengaruhi terjadinya konversi agama.

Selanjutnya, Para ahli ilmu pendidikan berpendapat bahwa konversi agama dipengaruhi oleh kondisi pendidikan. Penelitian ilmu sosial menampilkan data dan argumentasi bahwa suasana pendidikan ikut mempengaruhi konversi agama. Walaupun belum dapat dikumpulkan data secara pasti tentang pengaruh lembaga pendidikan terhadap konversi agama namun berdirinya sekolah-sekolah yang bernaung di bawah yayasan agama tentunya mempunyai tujuan keagamaan pula.

Menurut Daradjat (1986), faktor-faktor terjadinya konversi agama meliputi:

1. Pertentangan batin (konflik jiwa) dan ketegangan perasaan, orang-orang yang gelisah, di dalam dirinya bertarung berbagai persoalan, yang kadang-kadang dia merasa tidak berdaya menghadapi persoalan atau problema, itu mudah mengalami konversi agama. Di samping itu sering pula terasa ketegangan batin, yang memukul jiwa , merasa tidak tenteram, gelisah yang kadang-kadang terasa tidak ada sebabnya dan kadang-kadang tidak diketahui. Dalam semua konversi agama, boleh dikatakan, latar belakang yang terpokok adalah konflik jiwa (pertentangan batin) dan ketegangan perasaan, yang mungkin disebabkan oleh berbagai keadaan.

2. Pengaruh hubungan dengan tradisi agama, diantara faktor-faktor penting dalam riwayat konversi itu, adalah pengalaman-pengalaman yang mempengaruhinya sehingga terjadi konversi tersebut. Diantara pengaruh yangterpenting adalah pendidikan orang tua di waktu kecil mempunyai pengaruh yang besar terhadap diri orang-orang, yang kemudian terjadi padanya konflik konversi agama, adalah keadaan mengalami ketegangan yang konflik batin itu, sangat tidak bisa, tidak mau, pengalaman di waktu kecil, dekat dengan orang tua dalam suasana yang tenang dan aman damai akan teringat dan membayang-bayang secara tidak sadar dalam dirinya. Keadaan inilah yang dlam peristiwa-peristiwa tertentu menyebabkan konversi tiba-tiba terjadi. Faktor lain yang tidak sedikit pengaruhnya adalah lembaga-lembaga keagamaan, masjid-masjid atau gerejagereja. Melalui bimbingan lembaga-lembaga keagamaan itu, termasuk salah satu faktor penting yang memudahkan terjadinya konversi agama jika pada umur dewasanya ia kemudian menjadi acuh tak acuh pada agama dan mengalami konflik jiwa atau ketegangan batin yang tidak teratasi.

3.Ajakan/seruan dan sugesti, banyak pula terbukti, bahwa diantara peristiwa konversi agama terjadi karena pengaruh sugesti dan bujukan dari luar. Orang-orang yang gelisah, yang sedang mengalami kegoncangan batin, akan sangat mudah menerima sugesti atau bujukan-bujukan itu. Karena orang-orang yang sedang gelisah atau goncangan jiwanya itu, ingin segera terlepas dari penderitaannya, baik penderitaan itu disebabkan oleh keadaan ekonomi, sosial, rumah tangga, pribadi atau moral.

4. Faktor-faktor emosi, orang-orang yang emosionil (lebih sensitif atau banyak dikuasai oleh emosinya), mudah kena sugesti, apabila ia sedang mengalami kegelisahan. Kendatipun faktor emosi, secara lahir tampaknya tidak terlalu banyak pengaruhnya, namun dapat dibuktikan bahwa, emosi adalah salah satu faktor yang ikut mendorong kepada terjadinya konversi agama, apabila ia sedang mengalami kekecewaan. e. Kemauan, kemauan yang dimaksudkan adalah kemauan seseorang itu sendiri untuk memeluk kepercayaan yang lain.

Selain faktor-faktor diatas, Sudarno menambahkan empat faktor pendukung, yaitu: (a. Cinta, cinta merupakan anugrah yang harus dipelihara, tanpa cinta hidup tidak akan menjadi indah dan bahagia, cinta juga merupakan salah satu fungsi sebagai psikologi dan merupakan fitrah yang diberikan kepada manusia ataupun binatang yang banyak mempengaruhi hidupnya, seseorang dapat melakukan konversi agama karena dilandaskan perasaan cinta kepada pasangannya. (b. Pernikahan, adalah salah suatu perwujudan dari perasaan saling mencintai dan menyayangi. (c. Hidayah “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang-orang yang dikendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk ”(QS. Al-Qasas:56)“Barang siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki kelangit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman”. (QS. Al An’am: 125)

Ayat-ayat Al-Qur’an diatas dapat diambil kesimpulan bahwa bagaimanapun usaha orang untuk mempengaruhi seseorang untuk mengikuti keyakinannya, tanpa ada kehendak dari Allah SWT tidak akan bisa. Manusia diperintah oleh Allah SWT untuk berusaha, namun jangan sampai melawan kehendak Allah SWT dengan segala pemaksaan.<!–[if !supportFootnotes]–>[15]<!–[endif]–> (d. Kebenaran agama, menurut Djarnawi (Sudarno, 2000) agama yang benar adalah yang tepat memilih Tuhannya, tidak keliru pilih yang bukan Tuhan dianggap Tuhan. Kebenaran agama yang dimaksud tidak karena paksaan, bujukan dari orang lain, akan tetapi lewat kesadaran dan keinsyafan antara lain melalui dialog-dialog, ceramah, mempelajari literatur, buku-buku dan media lain

B.6 Macam- Macam Konversi Agama

Starbuck sebagaimana diungkap kembali oleh Bernard Splika membagi konversi menjadi dua macam, yaitu:

a. Type volitional (perubahan secara bertahap) yaitu konversi yang terjadi secara berproses, sedikit demi sedikit hingga kemudian menjadi seperangkat aspek dan kebiasaan ruhaniah yang baru.

b. Type self surrender (perubahan secara drastis) yaitu konversi yang terjadi secara mendadak. Seseorang tanpa mengalami proses tertentu tiba- tiba berubah pendiriannya terhadap suatu agama yang dianutnya. Perubahan tersebut dapat terjadi dari kondisi tidak taat menjadi taat, dari tidak kuat keimanannya menjadi kuat keimanannya, dari tidak percaya kepada suatu agama menjadi percaya dan sebagainya.

Sedangkan jenis-jenis konversi agama dibedakan menjadi dua sebagaimana yang dikatakan Moqsith, yaitu:<!–[if !supportFootnotes]–>[16]<!–[endif]–>

a. Konversi internal, terjadi saat seseorang pindah dari mazhab dan perspektif tertentu ke mazhab dan perspektif lain, tetapi masih dalam lingkungan agama yang sama.

b. Konversi eksternal, terjadi jika seseorang pindah dari satu agama ke agama lain.

 

C. Penutup

Konversi agama merupakan suatu tindakan dimana seseorang atau sekelompok orang masuk atau berpindah dari suatu sistem kepercayaan atau perilaku ke system kepercayaan yang lain. Secara garis besar yang menjadi penyebab utama konversi agama tersebut yaitu karena petunjuk (hidayah Ilahi), akibat penderitaan batin ataupun pilihan diri setelah melalui pertimbangan yang masak. Pada awal-awal terjadinya perubahan itu, setiap diri merasakan kegelisahan batin. Sulit untuk menentukan secara spontan mana yang harus diikuti.

Kesulitan seperti itu wajar, karena agama sebagai keyakinan menyangkut sisi kehidupan batin seseorang yang berkaitan dengan nilai. Bagi manusia nilai merupakan sesuatu yang dianggap benar dan menyangkut pandangan hidup. Oleh karena itu selain peka, nilai juga merupakan sesuatu yang perlu dipertahankan oleh seseorang. Bahkan, pada tingkat yang paling tinggi pemeluk keyakinan itu rela mempertaruhkan nyawa demi mempertaruhkan nilai tersebut.

D. Daftar Pustaka

http://faiz_lathif.blog2.plasa.com/., diakses pada tanggal 4 Des 2008 09:11:02 GMT.

http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda http://klinis.wordpress.com/2007/12/27/konversi-agama-1/

http://www.hupelita.com/cetakartikel.php?id=53540, diakses pd tanggal 22 Okt 2008 20:49:14 GMT

http://www.syauqipress.com/cetak.php?id=11., diakses pd tgl 4 Des 2008 07:48:05 GMT

http://solilokui.multiply.com/journal/item/7, pada tanggal 12 Des 2008 11:45:31 GMT.

Purwanto, Setiyo. Konversi Agama, http://one.indoskripsi.com/node/449, diakses pd tgl 14-12-2008

Rahmat, Jalaluddin. Psikologi Agama. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005

Shihab, M. Quraish. Wawasan al-Qur’ân Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat. Bandung: Mizan. Cet. XII. 2001

Daradjat, Zakiah. Ilmu Jiwa Agama . Jakarta: Bulan Bintang, Cet. X. 1987.

<!–[if !supportFootnotes]–>

<!–[endif]–>

<!–[if !supportFootnotes]–>[2]<!–[endif]–> http://faiz_lathif.blog2.plasa.com/., diakses pada tanggal 4 Des 2008 09:11:02 GMT.

<!–[if !supportFootnotes]–>[3]<!–[endif]–> (QS. al-A’râf/7: 172), lihat M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’ân Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat, (Bandung: Mizan, Cet. XII, , 2001) h. 284

<!–[if !supportFootnotes]–>[4]<!–[endif]–> Dalam hadist nabi dikatakan: ”setiap manusia lahir dalam keadaan fitrah, kedua orang tunyalah yang menjadikannya yahudi, nasrani dan Majusi” (al-Hadis)

<!–[if !supportFootnotes]–>[5]<!–[endif]–> http://klinis.wordpress.com/2007/12/27/konversi-agama-1/

<!–[if !supportFootnotes]–>[8]<!–[endif]–> Ibid, pengaruh latar belakang sosiokultur tersebut, tidak jauh berbeda dengan marx yang hidup di lingkungan Yahudi

<!–[if !supportFootnotes]–>[9]<!–[endif]–> Setiyo purwanto, Konversi Agama, http://one.indoskripsi.com/node/449, diakses pd tgl 14-12-2008

<!–[if !supportFootnotes]–>[11]<!–[endif]–> Zakiah Daradjat,Ilmu Jiwa Agama (Jakarta: Bulan Bintang, Cet. X, 1987), Hlm. 137.

<!–[if !supportFootnotes]–>[12]<!–[endif]–> Jalaluddin, Psikologi Agama (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005) hlm. 279

<!–[if !supportFootnotes]–>[14]<!–[endif]–> http// Blog at WordPress.com diakses pd tgl 14-12-2008

<!–[if !supportFootnotes]–>[15]<!–[endif]–> Hal ini senada dengan apa yang dinyaakan dalam

<!–[if !supportFootnotes]–>[16]<!–[endif]–> (http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

Posted in psikologi | 179 Comments »

Peran Pendidikan Islam Dalam Membentuk Moral Bangsa

June 12th, 2010 by 06422012

Peran Pendidikan Islam

Dalam Membentuk Moral Bangsa

Era Reformasi selain melahirkan perubahan dan perkembangan positif, seperti demokratisasi bidang sosial politik dan lain-lain, juga tak terhindarkan memicu munculnya krisis multi-dimensional, yang hingga saat ini belum terselesaikan secara menyeluruh, sebaliknya ada kecenderungan semakin memprihatinkan. Jika dicermati, akar krisis multi-dimensional ini terletak pada kemerosotan akhlaq. Kekarasan/tawuran, pelecehan seksual, narkoba dsb, fenomena ini menjadi berita yang sudah tidak asing lagi di dengar di telinga kita

Agama yang syarat akan adanya nilai-nilai moralitas dan kepribadian menjadikannya perlu ditranspormasikan kepada generasi muda sebagai ikon penerus bangsa. Oleh sebab itu perlu adanya konsep pendidikan Islam yang efektif, yang dapat menghantarkan nilai-nilai positif agar dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Disamping itu, agama juga menjadi pemenuhan kebutuhan batin individu yang secara naluriah sangat diperlukan oleh setiap manusia.

Islam sebagai agama rahmat memberi peluang kepada manusia untuk mengembangkan diri. Pengembangan diri berdasarkan wahyu merupakan cita-cita Al-Quran. Pengembangan diri tersebut merupakan bagian dari wahyu ketuhanan. Karena dalam al-Quran terdapat perintah untuk mengubah diri, perintah untuk banyak membaca, perintah untuk berfikir. Perintah-perintah tersebut mengindikasikan bahwa manusia diajarkan untuk mampu menempa diri dan mengembangkan bakat yang ada dalam dirinya.

Secara formal-konstitusional, pendidikan agama menempati posisi yang kuat,sebagaimana tercantum dalam amandemen UUD 1945 pasal 31 ayat 3 yaitu “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam mencerdaskan kehidupan bangsa”. Selain itu dalam UU Sisdinas Pasal 30 ayat 2 yang intinya bahwa pendidikan agama berfungsi agar setiap peserta didik dapat mengamalkan nilai-nilai agamanya dan ahli agama.

Pendidikan bertujuan menimbulkan pertumbuhan seimbang kepribadian manusia melalui latihan spiritual, intelek, rasional diri, perasaan dan kepekaan tubuh manusia. Oleh karena itu, pendidikan hendaknya menyediakan jalan untuk pertumbuhan manusia dalam segala aspeknya, seperti spiritual, intelektual, imaginative, fisikal, ilmiah, linguistik, baik secara individual maupun secara kolektif dan memotivasi semua aspek untuk mencapai kebaikan dan kesempurnaan. Menurut Ali Asraf tujuan terakhir pendidikan muslim adalah perwujudan penyerahan mutlak kepada Allah, pada tingkat individual, masyarakat dan kemanusiaan.

Ali Asraf berpendapat bahwa pendidikan Islam adalah pendidikan yang melatih sensibilitas peserta didik sedemikian rupa, sehingga dalam perilaku mereka terhadap kehidupan, langkah-langkah dan keputusan dan pendekatan mereka terhadap semua ilmu pengetahuan mereka diatur oleh nilai-nilai etika Islam yang dirasakannya. Sikap tersebut terjadi karena berasal dari keyakinan ikhlas dari Tuhan.

Konsep Pendidikan Islam

Konsep pendidikan Islam dapat secara praktis diwujudkan melalui kurikulum, yang harus dirumuskan pertama untuk menjamin bahwa buku-buku teks yang tepatlah yang dihasilkan. Hal –hal yang hendaknya diperhatikan dalam menyusun kurikulum Islam adalah, pertama, konsep Islam tentang manusia sangat luas. Kedua, pengetahuan adalah sumber kemajuan dan perkembangan, Islam tidak membatasi pencapaian pengetahuan. Ketiga, besarnya penilikan harus konprehensif. Keempat, aspek spiritual, moral, intelektual, imajinatif dan fisik dan kepribadian seseorang harus perhatikan ketika membuat interelasi antara berbagai disiplin

Pertumbuhan kemampuan dan pikiran seorang anak harus menjadi pertimbangan untuk menyusun subyek dan rangkaian pelajaran dalam tahap-tahap yang bertingkat. Kelima, perkembangan kepribadian seharusnya dilihat dalam konteks hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam. Dalam, pengembangan kurikulum perlu juga pemantapan hirarki pengetahuan, pengetahuan intelektual hendaknya juga menjadi perhatian, termasuk keyakinan dan etika harus ditanamkan kepada seorang anak sejak tahap awal. Penjelasan tersebut merupakan hal-hal yang perlu menjadi perhatian dalam perencanaan kurikulum.

Peran Pendidik Terhadap Peserta Didik

Islam memberikan perhatian khusus terhadap masalah pendidikan. Posisi dan peranan guru mendapat kedudukan istimewa dalam kacamata seorang Muslim. Menurut sebuah hadits, Rasulullah SAW pernah berpesan bahwa setiap Muslim hendaknya menjadi pendidik atau menjadi orang yang dididik.

Ibnu Khaldun memandang usaha mendidik dalam aktivitas pendidikan sebagai salah satu salah satu pekerjaan yang memerlukan keahlian. Konsekuensi pandangan ini bahwa untuk menjadi seorang pendidik (guru), diperlukan beberapa kualifikasi tertentu. Untuk ini, Ibnu Khaldun menghendaki bahwa seorang pendidik harus memilki pengetahuan yang memadai tentang perkembangan kerja akal secara bertahap. Seorang pendidik harus menggunakan method mengajar yang bisa sesuai dengan tahap-tahap perkembangan peserta didik..

Adapun tugas dan peranan secara garis besar sebagai berikut : ia tidak hanya bertugas mentransfer ilmu kepada anak didik, tetapi juga harus mampu mentransfer iman dan akidah Islam; ia tidak hanya penyampai ilmu, tetapi juga harus menjadi pengamal pertama dari ilmu yang diajarkannya; ia tidak hanya wajib melaksanakan pendidikan di kelas sesuai jadwal yang telah ditetapkan, tapi juga harus setiap saat bisa melayani anak didik; ia tidak hanya menjadi pendidik di ruang kelas, tetapi juga menjadi pendidik di setiap tempat di mana pun ia berada; ia tidak hanya siap menjawab pengetahuan sesuai dengan bidangnya, tetapi juga harus mempu menjawab pertanyaan anak didik tentang Islam; ia tidak hanya dapat dipercaya dalam moral dan akhlaknya; ia tidak hanya harus sukses dalam melaksanakan tugas pendidikan di sekitar lembaga pendidikan, tetapi juga harus mampu melakukan hal yang sama di rumah dan di tengah masyarakat; ia tidak hanya harus mempertangungjawabkan segala langkahnya kepada lembaga, tetapi juga harus mempertanggungjawabkannya (secara moral) kepada umat dan kepada Allah; ia tidak hanya menjadikan dirinya sebagai teladan, tetapi keluarganya juga harus menjadi teladan bagi keluarga lain; hubungan antara para guru, pimpinan lembaga, orangtua, dan lain-lainnya harus diciptakan sebagai ukhuwah Islamiyah yang mengandung aspek-aspek ta’awun, musawah, tarahum, tadhamun, dan lain-lain.

Keberhasilan guru akan dapat dicapai apabila guru sadar betul akan hak dan kewajiban yang melekat pada profesinya. Hak dan kewajiban tersebut tidak saja nampak pada SK mengajar atau SK-SK lainnya, akan tetapi kesadaran akan hakikat pendidik sesuai dengan kultur, budaya, dan keyakinan yang dianut.

Bahan Bacaan

SuhartoFilsafat, Toto. Filsafat Pendidikan Islam. Yogyakarta: Ar-Ruzz, Cet. I, 2006

Http://kotasantri.com/mimbar.php?aksi=Detail&sid=552, diakses pd tgl 30 Agu 2008 13:15:40 GMT.

Riwayat. Pemikiran Ali Asraf Tentang Konsep Pendidikan Islam, dlm http//riwayat.wordpress.com

Posted in pendidikan | 168 Comments »

Penyesuaian Diri

June 12th, 2010 by 06422012

PENYESUAIAN DIRI

Kehidupan manusia dapat berlangsung karena adanya hubungan timbal-balik dengan lingkungan hidupnya. Dalam hubungan ini manusia dituntut untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Penyesuaian ini mengakibatkan manusia lebih banyak mengubah diri dibanding mengubah lingkungan.Tanggapan individu yang sehat terhadap diri dan kehidupannya merupakan landasan dasar untuk dapat menyesuaikan diri.

Sebagai makhluk sosial, manusia dituntut untuk mampu mengatasi segala permasalahan yang timbul sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungan sosial dan mampu menampilkan diri sesuai dengan aturan atau norma yang berlaku. Oleh karena itu setiap individu dituntut untuk menguasai ketrampilan-ketrampilan sosial dan kemampuan penyesuaian diri terhadap lingkungan sekitarnya. Ketrampilan-ketrampilan tersebut biasanya disebut sebagai aspek psikososial

Selain itu penyesuaian diri juga merupakan salah satu persyaratan penting bagi terciptanya kesehatan jiwa/mental individu. Banyak individu yang menderita dan tidak mampu mencapai kebahagiaan dalam hidupnya, karena ketidak-mampuannya dalam menyesuaikan diri, baik dengan kehidupan keluarga, sekolah, pekerjaan dan dalam masyarakat pada umumnya. Tidak jarang pula ditemui bahwa orang-orang mengalami stres dan depresi disebabkan oleh kegagalan mereka untuk melakukan penyesaian diri dengan kondisi yang penuh tekanan. Oleh sebab itu disisni kami mencoba untuk membahas secara umum tentang masalah-masalah yang berkaitan dengan penyesuaian diri dan mencoba untuk menemukan solusi yang terbaik.

PEMBAHASAN

Pengertian

Pengertian penyesuaian diri pada awalnya berasal dari suatu pengertian yang didasarkan pada ilmu biologi yang di utarakan oleh Charles Darwin yang terkenal dengan teori evolusinya. Ia mengatakan: “Genetic changes can improve the ability of organisms to survive, reproduce, and, in animals, raise offspring, this process is called adaptation”.(Microsoft Encarta Encyclopedia 2002).[1]

Sesuai dengan pengertian tersebut, maka tingkah laku manusia dapat dipandang sebagai reaksi terhadap berbagai tuntutan dan tekanan lingkungan tempat ia hidup seperti cuaca dan berbagai unsur alami lainnya. Semua mahluk hidup secara alami dibekali kemampuan untuk menolong dirinya sendiri dengan cara menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan materi dan alam agar dapat bertahan hidup. Dalam istilah psikologi, penyesuaian (adaptation dalam istilah Biologi) disebut adjusment.[2]

Adjustment itu sendiri merupakan suatu proses untuk mencari titik temu antara kondisi diri sendiri dan tuntutan lingkungan (Davidoff, 1991). Manusia dituntut untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial, kejiwaan dan lingkungan alam sekitarnya. Kehidupan itu sendiri secara alamiah juga mendorong manusia untuk terus-menerus menyesuaikan diri.[3]

Namun menurut Lazarus (1976), Haber & Runyon (1984), Atwater (1983), Powell (1983), Martin & Osborne (1989), dan Hollander (1981) penyesuaian diri adalah suatu proses perubahan dalam diri dan lingkungan, dimana individu harus dapat mempelajari tindakan atau sikap baru untuk hidup dan menghadapi keadaan tersebut sehingga tercapai kepuasan dalam diri, hubungan dengan orang lain dan lingkungan sekitar.[4]

Berdasarkan uraian yang telah diungkapkan oleh para psikolog atau ilmuan di atas dapat dikatakan bahwa penyesuaian diri merupakan suatu proses dinamis yang bertujuan untuk mengubah perilaku individu agar terjadi hubungan yang lebih sesuai antara diri individu dengan lingkungannya. Atas dasar pengertian tersebut dapat diberikan batasan bahwa kemampuan manusia sanggup untuk membuat hubungan-hubungan yang menyenangkan antara manusia dengan lingkungannya.

Aspek-Aspek Dalam Penyesuaian Diri

Menurut Atwater (1983) dalam penyesuaian diri harus dilihat dari tiga aspek yaitu diri kita sendiri, orang lain dan perubahan yang terjadi.[5] Namun pada dasarnya penyesuaian diri memiliki dua aspek yaitu: penyesuaian pribadi dan penyesuaian sosial. Untuk lebih jelasnya kedua aspek tersebut akan diuraikan sebagai berikut :

1. Penyesuaian Pribadi

Penyesuaian pribadi adalah kemampuan individu untuk menerima dirinya sendiri sehingga tercapai hubungan yang harmonis antara dirinya dengan lingkungan sekitarnya. Ia menyadari sepenuhnya siapa dirinya sebenarnya, apa kelebihan dan kekurangannya dan mampu bertindak obyektif sesuai dengan kondisi dirinya tersebut. Keberhasilan penyesuaian pribadi ditandai dengan tidak adanya rasa benci, lari dari kenyataan atau tanggungjawab, dongkol. kecewa, atau tidak percaya pada kondisi dirinya. Kehidupan kejiwaannya ditandai dengan tidak adanya kegoncangan atau kecemasan yang menyertai rasa bersalah, rasa cemas, rasa tidak puas, rasa kurang dan keluhan terhadap nasib yang dialaminya.[6]

Sebaliknya kegagalan penyesuaian pribadi ditandai dengan keguncangan emosi, kecemasan, ketidakpuasan dan keluhan terhadap nasib yang dialaminya, sebagai akibat adanya gap antara individu dengan tuntutan yang diharapkan oleh lingkungan. Gap inilah yang menjadi sumber terjadinya konflik yang kemudian terwujud dalam rasa takut dan kecemasan, sehingga untuk meredakannya individu harus melakukan penyesuaian diri.

2. Penyesuaian Sosial

Setiap individu hidup di dalam masyarakat. Di dalam masyarakat tersebut terdapat proses saling mempengaruhi satu sama lain silih berganti. Dari proses tersebut timbul suatu pola kebudayaan dan tingkah laku sesuai dengan sejumlah aturan, hukum, adat dan nilai-nilai yang mereka patuhi, demi untuk mencapai penyelesaian bagi persoalan-persoalan hidup sehari-hari. Dalam bidang ilmu psikologi sosial, proses ini dikenal dengan proses penyesuaian sosial. Penyesuaian sosial terjadi dalam lingkup hubungan sosial tempat individu hidup dan berinteraksi dengan orang lain. Hubungan-hubungan tersebut mencakup hubungan dengan masyarakat di sekitar tempat tinggalnya, keluarga, sekolah, teman atau masyarakat luas secara umum. Dalam hal ini individu dan masyarakat sebenarnya sama-sama memberikan dampak bagi komunitas. Individu menyerap berbagai informasi, budaya dan adat istiadat yang ada, sementara komunitas (masyarakat) diperkaya oleh eksistensi atau karya yang diberikan oleh sang individu.[7]

Apa yang diserap atau dipelajari individu dalam poroses interaksi dengan masyarakat masih belum cukup untuk menyempurnakan penyesuaian sosial yang memungkinkan individu untuk mencapai penyesuaian pribadi dan sosial dengan cukup baik. Proses berikutnya yang harus dilakukan individu dalam penyesuaian sosial adalah kemauan untuk mematuhi norma-norma dan peraturan sosial kemasyarakatan. Setiap masyarakat biasanya memiliki aturan yang tersusun dengan sejumlah ketentuan dan norma atau nilai-nilai tertentu yang mengatur hubungan individu dengan kelompok. Dalam proses penyesuaian sosial individu mulai berkenalan dengan kaidah-kaidah dan peraturan-peraturan tersebut lalu mematuhinya sehingga menjadi bagian dari pembentukan jiwa sosial pada dirinya dan menjadi pola tingkah laku kelompok.

Kedua hal tersebut merupakan proses pertumbuhan kemampuan individu dalam rangka penyesuaian sosial untuk menahan dan mengendalikan diri. Pertumbuhan kemampuan ketika mengalami proses penyesuaian sosial, berfungsi seperti pengawas yang mengatur kehidupan sosial dan kejiwaan. Boleh jadi hal inilah yang dikatakan Freud sebagai hati nurani (super ego), yang berusaha mengendalikan kehidupan individu dari segi penerimaan dan kerelaannya terhadap beberapa pola perilaku yang disukai dan diterima oleh masyarakat, serta menolak dan menjauhi hal-hal yang tidak diterima oleh masyarakat.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penyesuaian Diri

Menurut Powell (1983) terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi individu dalam melakukan penyesuaian diri, yang disebut sebagai resources. Resources yang memiliki asosiasi tinggi dengan penyesuaian diri dalam hidup adalah hubungan yang baik dengan keluarga dan orang lain, keadaan fisik, kecerdasan, minat diluar pekerjaan, keyakinan yang bersifat religius, kemampuan keuangan, dan impian.[8].

Faktor-faktor lain yang mempengaruhi interaksi sosial antara lain: gaya hidup, status sosial, intelegence quotion (IQ), emotional quotion (EQ), lingkungan keluarga dan pola asuh orang tua (bagi anak-anak dan remaja) (Calhoun, 1995).

Kemudian, sebenarnya perilaku tidak hanya tergantung pada dorongan motivasi diri, banyak hambatan dan halangan di sekitar kita baik yang eksternal (luar diri kita) maupun internal (dalam diri kita). Jika suatu dorongan atau keinginan manusia dihambat atau dihalangi, akan timbul stres. Stres dapat dianggap sebagai suatu keharusan untuk menyesuaikan diri, yang dibebankan pada individu. Keadaan, yang merupakan kekuatan atau keharusan untuk menyesuaikan diri, dianggap sebagai stressor yang dapat bersifat internal atau eksternal; biasanya tidak hanya satu stressor saja yang membebani individu tetapi beberapa stressor sekaligus.[9] Selanjutnya, orang yang dapat menyesuaikan diri dengan baik adalah orang-orang yang memiliki respon-respon yang matang, efisien, memuaskan dan sehat. Sebaliknya, orang yang neurotik adalah orang yang sangat tidak efisien dan tidak pernah melaksanakan tugas secara lengkap. Istilah “sehat” berarti respons yang baik untuk kesehatan, yakni cocok untuk kodarat manusi, dalam hubungannya dengan orang lain dan dengan tanggung jawabnya. Kesehatan merupakan ciri yang khas dalam penyesuaindiri yang baik.[10]

Singkatnya meskipun memiliki kekurangan-kekurangan kepribadian, oarng yang dapat menyesuaikan diri dengan baik dapat bereaksi secara efektif terhadap situasi-situasi yang berbeda, dapat memecahkan komplik-komplik, frustasi-frustasi, dan masalah-masalah simtomatik, karena itu dia bebas dari simtom-simtom, seperti kecemasan, kronis, obsesi, atau gangguan psikofisiologis (psikosomatik).ia cukup menguhubungkan antar pribadi dan kepuasan-kepuasan yang ikut menyumbangkan kesinambungan pertumbuhan kepribadian.[11]

Langkah-Langkah Yang efektif Dalam Penyesuaian Diri

Usaha penyesuaian diri dapat berlangsung dengan baik dan dapat juga berlangsung tidak baik. Penyesuaian diri yang baik menurut Gunarsa, ( 1985; dalam Ikawati, 1994 ) mempunyai ciri-ciri : dapat diterima di suatu kelompok, dapat menerima dirinya sendiri, dapat menerima kekurangan dan kelebihan diri sendiri. Sedangkan penyesuaian diri yang tidak baik ditunjukan dengan buruknya hubungan sosial individu dengan lingkungan sekitarnya.[12]

Penyesuaian diri yang baik, yang selalu ingin diraih setiap orang, tidak akan dapat tercapai, kecuali bila kehidupan orang tersebut benar-benar terhindar dari tekanan, kegoncangan dan ketegangan jiwa yang bermacam-macam, dan orang tersebut mampu untuk menghadapi kesukaran dengan cara objektif serta berpengaruh bagi kehidupannya, serta menikmati kehidupannya dengan stabil, tenang, merasa senang, tertarik untuk bekerja, dan berprestasi.

Ada beberapa langkah efektif dalam menyesuaikan diri, diantaranya sebagaimana yang dikatakan Haber & Runyon (1984) yaitu persepsi yang akurat terhadap realitas, kemampuan untuk mengatasi kecemasan dan stres, citra diri yang positif, kemampuan untuk mengekspresikan perasaannya, serta hubungan antarpribadi yang baik.

Untuk mendapatkan solusi yang terbaik bagi gangguan penyesuaian diri, setidaknya seseorang harus mengetahui ukurang tingkat kualitas dan juga tingkat penyesuaian diri pribadi atau sosial. Apabila kita telah mengetahui penyesuaian diri yang baik dan ukuran-ukuran kesehatan mental, maka kita dapat mengarahkan usaha-usaha kita dengan baik dan efektif pada waktu kita membantu orang lain.

Langkah pertama yang kita mulai dalam proses penyesuaian diri yang baik yakni pemahaman (inisight) dan pengetahuan tentang diri sendiri (self-knowledge). Dengan insight dan self-knowledge terhadap diri sendiri, maka kita dapat mengetahui kapabilitas dan kekurangan diri kita sendiri dan kita dapat menangani secara efektif masalah-masalah penyesuaian diri. Pengetahuan tentang diri sendiri memerlukan perincian yang baik tentang kekuatan dan kelemahan kita sendiri. Dengan mengetahui kelemahan itu, sekurang-kurangnya kita berusaha untuk mengurangi atau menghilangkan pengaruh-pengaruhnya terhadap kehidupan-kehidupan kita. Dan sebaliknya, dengan mengetahui kekuatan kita sendiri, maka kita berada pada posisi yang lebih baik. Untuk menggunakannya demi pertumbuhan pribadi. Perbaikan diri dimulai dengan keberanian dan kepastian untuk menghadapi kebenaran tentang diri sendiri.

Kemudian langkah selanjutnya yakni pengendalian diri sendiri yang berarti orang-orang mengatur implus-implus, pikiran-pikiran, kebiasaan-keibiasaan, emosi-emosi dan tingkahlaku berkaitan dengan prinsip-prinsip yang dikenakan pada diri sendiri atau tuntunan-tuntunan yang dikenakan oleh masyarakat. Dengan demikian individu yang komfulsif, histris atau obsesif, atau orang yang menjadi korban kehawatiran, sifat yang terlalu berhati- hati, ledakan amarah, kebiasaan gugup, merasa sulit atau tidak mungkin menanggulangi dengan baik tugas-tugas dan masalah sehari-sehari.

Pengendalian diri adalah dasar bagi integrasi pribadi yang merupaka salah satu kualitas yang penting dari orang yang dapat menyesuaiakan diri dengan baik dan salah satu standar yang baik dalam menentukan tingkat penyesuaian diri. Selanjutnya dalam mengembangkan pengendalian dan integrasi, pembentukan “kebiasaan-kebiasan yang bermanfaat” adalah penting karena banyak penyesuaian diri individu tiap saat diakibatkan oleh tingkah laku menurut kebiasaan (habitual behavior) dan biasanya penyesuaian diri yang baik tidak dapat dirusak oleh sistem-sistem yang tidak efisien atau tidak sempurna.

Kesimpulan

Berdasarkan uraian di atas dapat dikatakan bahwa penyesuaian diri merupakan suatu proses dinamis yang bertujuan untuk mengubah perilaku individu agar terja di hubungan yang lebih sesuai antara diri individu dengan lingkungannya. Atas dasar pengertian tersebut dapat diberikan batasan bahwa kemampuan manusia sanggup untuk membuat hubungan-hubungan yang menyenangkan antara manusia dengan diri sendiri maupun lingkungannya. Kemudian selanjutnya, sebagaimana yang dijelaskan oleh Atwater (1983) bahwa dalam penyesuaian diri harus dilihat dari tiga aspek yaitu diri kita sendiri, orang lain dan perubahan yang terjadi.

Usaha penyesuaian diri dapat berlangsung dengan baik dan dapat juga berlangsung tidak baik. Penyesuaian diri yang baik seperti yang dikatakan oleh Gunarsa diatas, adalah mempunyai ciri-ciri : dapat diterima di suatu kelompok, dapat menerima dirinya sendiri, dapat menerima kekurangan dan kelebihan diri sendiri. Sedangkan penyesuaian diri yang tidak baik ditunjukan dengan buruknya hubungan sosial individu dengan lingkungan sekitarnya.

Adapun cara yang tepat dalam menyesuaikan diri setidaknya seseorang harus dapat hal-hal berikut yaitu: persepsi yang akurat terhadap realitas, kemampuan untuk mengatasi kecemasan dan stres, citra diri yang positif, kemampuan untuk mengekspresikan perasaannya, serta hubungan antar pribadi yang baik. Wallahu’alam…!

DAFTAR PUSTAKA

http://www.e-psikologi.com/remaja/160802.htm yang direkam pada 20 Feb 2008 10:00:26

GMT.

http://library.gunadarma.ac.id/files/disk1/13/jbptgunadarma-gdl-s1-2004-herdiyanma-641-bab1.pdf.

http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/05_149_KesehatanJiwadalamkehidupanmodern.pdf/05_149_KesehatanJiwadalamkehidupanmodern.html yang direkam pada 31 Jan 2008 11:00:58 GMT

Semium, Yustnus. Kesehatan Mental, Pandangan Umum Mengenai Penyesuaian Diri serta Teori-teori Terkait. Yogyakarta: Kanisius, Cet. 1, 2006

http://groups.yahoo.com/group/sekolahrumah/message/1435 yang direkam pada 4 Feb 2008 19:14:56 GMT.


[1] http://www.e-psikologi.com/remaja/160802.htm yang direkam pada 20 Feb 2008 10:00:26 GMT.

[2] Ibid

[3] Ibid

[4] http://groups.yahoo.com/group/sekolahrumah/message/1435 yang direkam pada 4 Feb 2008 19:14:56 GMT.

[5] http://library.gunadarma.ac.id/files/disk1/9/jbptgunadarma-gdl-grey-2005-anacaturri-436-.babi.pdf.

[6] http://www.e-psikologi.com/remaja/160802.htm yang direkam pada 20 Feb 2008 10:00:26 GMT

[7] Ibid.

[9]http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/05_149_KesehatanJiwadalamkehidupanmodern.pdf/05_149_KesehatanJiwadalamkehidupanmodern.html yang direkam pada 31 Jan 2008 11:00:58 GMT.

[10] Yustnus Semium, Kesehatan Mental, pandangan umum mengenaipenyesuaian diri serta teori-teori terkait (Yogyakarta: Kanisius, Cet. 1, 2006), hlm. 37

[11] Ibid.

[12] http://library.gunadarma.ac.id/files/disk1/13/jbptgunadarma-gdl-s1-2004-herdiyanma-641-bab1.pdf.

Posted in psikologi | 221 Comments »

Hello world!

June 8th, 2010 by 06422012

Welcome to Students.uii.ac.id Blogs. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!

Posted in Uncategorized | 60 Comments »